Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Terima Kasih Iblis

Rabu, 12 September 2012

Di desa yang terpencil, namun kini sudah menjadi besar karena ketenaran sang maestro yang merambah dunia politik dan ekonomi. Namun bukan lagi desa, sudah berganti nama menjadi kota yang berpendidikan, kota yang memberikan kesejukan dalam berfikir. Kota yang akan mengantar manusia-manusia bodoh menjadi pintar. Kota yang akan mengantar seseorang meraih cita-citanya.

 Terlihat seorang anak muda termenung sendiri di teras masjid. Di lihat dari postur tubuhnya memang kecil, namun wajahnya begitu bercahaya. Mungkin karena air wudhu telas membasahi mukanya dan kemilau cahaya surga bersemayam pada kerelaanya untuk sujud di hadapan sang maha kuasa. Begitu mempesona, jikalau ada seorang wanita melihatnya maka ia akan terpana memandangnya dan tak akan berdaya akan ketampanannya. Meski tubuhnya kecil tapi kecerdasannya juga sebanding dengan ketampananya.

Ia hanya satu dari laki-laki yang ingin meraih kebahagiaan dari seribu kenikmatan dunia. Namun terliaht dia hanya diam seribu bahasa, bahakan ia memandang langit dan bercengkrama dengan sang awan biru. Dan sesekali tengok kanan kiri, meratapi semua keluh kesah dunia. Apa yang ada di benaknya belum terjawabkan.

Ia tatap air yang mengalir dari kran ditempat perwudhuan, airnya begitu jernih. Kejernihanya melebihi air yang telah banyak menghanyutkan rumah-rumah di sekitar daerah aliaran banjir, ya pastilah jika air banjir memang berwarna kecoklatan berbeda dengan air yang di buat untuk wudhu. Begitu pula air yang membuat orang rela mengeluarkan satu rupiah hanya untuk seteguk minuman.

Dari mulutnya mulai keluar isyarat ”inilah kehidupan ada dua sisi yang berbeda dan semuanya itu ada tanda-tanda bagi mereka yang mau berfikir”. Langitpun juga begitu jika tidak mendung awan akan berwarna biru keputih-putihan, jika mendung datang akan menjadi hitam kegelapan. Baik buruk juga terjadi hubungan timbal balik. Inilah kehidupan ada dua sisi yang selalu bersandingan.

Namun desa kecil ini, kini telah menjadi ramai. Namun sekarang sudah kembali sepi “ada apa di balik kisah taman yang mengajarkan kedewasaan berfikir ini”.

Kota ini adalah kota yang memiliki nilai peradaban tinggi “pesantren dan sekolah telah merubah nasibnya, dulu banyak yang giat untuk mencari ilmu pengetahuan di bidang skill dan agama”

Desa ini telah menjadi kota yang berwibawa dengan tingkat perkembangan barang dan jasa “pesantren dan sekolah memikul beban berat karena dunia pendidikan semakin banyak tuntutan, bagaimana nasibnya besok. Jika para pembesarmu terlena dengan kehidupan yang tidak nyata”.

Kota yang berperadaban yang telah banyak melahirakan ilmuwan dan para cendikiawan serta para ahli dakwah “majlis kebijakan dan hikmah kini lenyap di tengah medan perang. Ia kalah dengan serangan modern dengan anak turunya berupa kesenangan dunia”.

Segudang cita-cita dan harapan ada di daerah kecil ini, sebab desa ini telah banyak berjasa baik di bidang ekonomi maupun politik “desa ini ingin bernyanyi di masjid kasih dan sayang, namun tidak dapat ditemui lantunan sholawat dan ayat-ayat suci, hanya yang terdenggar dengkuran suara untuk merayu kehinaan menuju lembah demokrasi”.

Pertanyaan demi pertanyaan yang tersurat maupun yang tersirat telah di kemas apik oleh pemuda tersebut. Dari mulutnya sudah mulai keluar kata demikata, sepatah kata dua kata dan analisis per kalimat dan anti tesis setiap paragrafnya. Pertanyaannya begitu ringan, namun itu hanya keluh kesahnya yang ia tumpahkan dari lamunanya di teras masjid.

Pemuda itu meningalkan masjid yang memberikan pencerahan hati. Kakinya melangkah pelan namun sangat pasti. Tubuhnya tegap seperti Bima yang membawa garda. Siap untuk jihad dijalan kemenangan demi Allah ia akan menjawab pertanyaanya sendiri.

Dunia telah masuk babak baru, sejarah tetap akan terulang kembali namun dengan versi yang berbeda. Layaknya sebuah drama yang mengikuti perkembangan zaman dengan relasi bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejarah itu telah muncul di bilik-bilik pesantren dan pendidikan,.syubhat iblis dan setan telah masuk kedunia pesantren dan lorong-lorong pendidikan. Iblis memang tidak pandang bulu, baik itu seorang kiyai, alim ulama ataupun orang dermawan, bahkan ilmuwan maupun para cendikiawaan bahkan orang bodoh.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Iblis memang tidak maumengakaui kalua kita adalah sang pemimpin umat. Namun kenapa padahal Allah sudah jelas-jelas lebih mengetahui. Apa karena kesombonganya dan keangkuhannya iblis berani menentang Tuhan yang telah menciptakannya. Iblis merasa sombang bahwa ia lebih baik dari manusia, karena ia tercipta dari api sedangkan manusia hanya tercipta dari tanah. Memang di akui jika api membakar tanah maka tanah akan menjadi batu yang mudah di hancurkan.

Inilah episode kekuasaan zaman jahiliah. Semoga guru dan yang telah mengajarkan aku satu ilmu tidak merasa angkuh dan takabur atas kelebihannya. Semoga juga guruku tahu, tidak hanya dia yang akan masuk surga, namun barang siapa mati dengan keadaan Islam dan beriman pasti Allah akan menerima di sisinya.

Ini memang drama klasik. Yang di pertontonkan dengan gaya unik. Banyak orang bertasbih dan bermunajat demi cinta, namun hanya untuk mengharap satu kekuasaan dunia bukan kekuasaan yang membawa diri untuk mendekat kepada sang khalik.

Ini bukan roamn picisan yang di buat-buat hanya untuk kepentingan sesaat, namun ini hanya kisah baru yang di bumbui dengan aroma kepuasan. Banyak manusia mengorbankan hartanya bukan untuk di jalan Allah namun hanya untuk berkampanye dengan dalih sedekah.

Terima kasih iblis engkau telah berkorban demi keangkuhanmu. Dengan keangkuhanmu itu kami akhirnya dapat turun ke dunia melui kaek moyang kami nabi Adam karena bujuk rayumu untuk memakan buah kuldi. Inilah tanda-tanda bagi mereka yang mepunyai akal pikir. Seandainya Adam tidak turun ke dunia mungkin kisah akan menjadi lain. Dan semua hanya Allah yang mengetahui sekenario dunia.

Namun aku tetap berterima kasih kepada iblis, seyogyanya, jika waktu itu iblis bertaubat. Tentu kejadian di dunia akan lain. Tidak ada yang akan mengangu manusia untuk beribadah. Siapa lagi kalau bukan setan, kita menyaksikan anatara kebaikan dan keburukan, karena adanya sang iblis. Malaikat yang ada di kanan kiri kita, juga akan mendapatkan tugas sebagaimana mestinya, tidak hanya berzikir semata.

Terima kasih iblis karena engkau telah mengkorbankan dirimu, hanya untuk manusia lugu yang tidak punya malu. Yang hanya mengejar kenikmatan dunia. Harta di tumpuk-tumpuk serta di hamburkan-hamburkan tak berguna. Hidup berfoya-foya karena musik kejahilan melanda otak pikirnya.

Terima kasih iblis engkau juga telah turun kedunia uantuk bersaing menjadi khalifah di muka bumi ini. Namun kepemimpinanmu membuat rakayat sengsara. Kekuasaan jadi rebutan dan kursi jabatan menjadi incaran serta kepuasan jadi jargon kehidupan.

Hai…iblis engkau telah bersemayam di hati para pemimpin-pemimpinku baik dari golongan para ulama maupun keturunan pebisnis hinga keturunan ningrat.

“Namun aku berpesan padamu, hanya Allah yang maha tahu”.

Pemuda itu telah samapai dikamarnya, ia rebahkan tubuhnya dilantai, matanya merayu mimpi untuk kembali menjalani hidup yang berarti. Dan desa terpencil, kini semakin terkucilkan.

Spektrum Kasih

Jumat, 07 September 2012

Ia tersenyum kecut ke arahku. Pandagannya semakin tajam dan aku semakin tidak mengerti. Aku kembali membuka lembaran-lembaran koran yang tercecer di ruang tamu. Semakin aku banyak bergerak, tatapan matanya semakin menakutkan. Seperti singa yang sedang kelaparan. Tiba-tiba terdengar bunyi pecahan piring, “pyaaarrr”. Aku diam dan seketika itu pula lembaran koran yang ada di tanganku begitu aja lepas jatuh kepada lantai.

“Dasar bajingan”, kata-kata itu keluar dari mulutnya. Aku semakin tidak percaya bisa-bisanya orang yang begitu lugu dan polos sampai mengucapkatan kata-kata pedas semacam itu. Sehingga kupingku terasa sakit sekali, seperti tamparan tangan yang melambai ke mukaku. “Hai, kenapa kau pandangi aku, bisa berhenti ngak”, ia bicara ke arahku. Sontak aku terdiam.

Tiba-tiba ia menghampiriku dan menjatuhkan beberapa piring di hadapanku. Pecahan piring sedikit mengenai kakiku. Akupun disuruh berjalan diatas pecahan piring. Bagaimana aku bisa berjalan. Jika pecahan itu sangat tajam. Dan ia pun mendorongku. Akupun terjatuh. Seketika itu pula tajamnya pecahan piring menancap di tubuhku.

Darah merah keluar dari tubuhku, tapi tidak sebegitu parah sehingga cucuran darah itu hanya beberapa detik keluar. Namun luka itu semakin terasa saat dia memukulkan piring ke arah kepalaku.

Rasa sakit semakin menghelanyuti tubuhku. Mau berkata tidak bisa, seolah mulut ini sudah di bungkam dengan kata-kata. Wajahnya begitu menakutkan, aku hanya bisa menahan rasa sakit.

Tangan dan kakinya menuju kearahku, begitu dekat. Perasaan semakin was-was, gimana nih. Kakinya menghantam tubuhkku. Aku terlempar beberapa centi meter. Karena tidak tahan akupun bangun. Walaupun sulit rasanya mengerakan tubuh, karena darah sudah keluar dan seluruh tubuh terasa ngilu.

“Bangsat”, kata itu muncul kembali dari mulutnya.

Dalam berdiriku ada diam. Bagaimana aku bisa menahan rasa sakit begitu tajamnya seperti mulut singa yang sedang kelaparan, begitu menakutkan dan mengerikan.

Aku di tuduh selingkuh. Ternyata ia marah karena aku berselingkuh dengan teman satu kerja di sekolahan negeri. Ia mendengar itu dari kata-kata tetangga yang mengatakan aku berjalan berdua dengan kepala sekolahku.

Aku tidak habis pikir, mengapa ia menuduhku yang belum ada bukti. Walau sebenarnya memang aku pernah beberapa kali jalan berdua dengan pak kepala sekolah. Namun itu dalam rangka tugas dinas pendidikan.

Aku berusaha menjelaskan dan memberikan keterangan sejelas-jelasnya kepada suamiku tercinta. Ia tetap pada pendiriannya dan tidak mempercayai kata-kata istrinya. Padahal belum pernah dia marah kepadaku, apa lagi sampai melakukan kekerasan.

Tanpa di sangka tubuhku telah terhunus pisau panjang yang ia keluarkan dari balik bajunya. Aku menjerit histeris dan tubuhku lemas tidak berdaya. Akupun terjatuh dan tersungkur, mataku semakin rabun melihat.
”Aku tetap percaya padamu”, kata-kata itu keluar dari mulutku

”Maaf kan aku istriku, aku telah khilaf aku tidak sadar diri melakukan perbuatan hina ini”. Ia baru menyadarinya setelah pisau itu menembus perutku.

Suamiku menggankat tubuhku dan berusaha melarikan aku ke rumah sakit. Ia mengeluarkan tangisan dan aku hanya bisa tersenyum. Hingga senyumanku terasa tidak memiliki daya.

Dunia ini bukanlah dunia yang di liputi dengan kegelisahan. Tapi sebuah kepastian yang bisa di rencanakan. Dengan rencana itu engkau dapat menjalankan sebuah kepastian. Karena sejatinya kegelisahan adalah amarah yang keluar dari diri yang tidak dapat di kendalikan oleh akal dan hati. Maka didiklah akal dan hati dengan perhatian yang serius dengan memusatkan kesadaran kolektif. Yaitu kesadaran illahiah dengan untain zikir dan doa.

Bukan semata kekerasan, amarah dan penyesalan. Akankah kehidupan ini bisa menjadi indah jika pikiran di kendalikan dengan rasa amarah. Bukankah rasa yang seharusnya di nikmati dengan kemanisan dan kelembutan.

Dan aku percaa bahwa amarah adalah fitrah
Dan aku percaya bahwa akal dan hati adalah anugerah
Dan aku percaya ada hukum keseimbangan
Seperti rotasi bumi mengelilingi matahari


4 Maret 2010
Jl. Sri Rejeki Utara VII/4 Rt. 3 Rw. 1,
Kelurahan Kalibanteng Kidul Semarang Barat

Niscala

Kejeniusan hanya sedikit bersangkut-paut dengan jalan menuju penemuan, itu adalah kata-kata Einstein. Sepertinya Nasya faham benar akan maksud perkataan tersebut. Biasanya akan muncul suatu loncatan dalam kesadaran. Banyak orang pintar di negeri ini, sekolah-sekolah gratis, bantuan pembiyayaan pendidikan yang terkecupi bagi mereka orang miskin yang tidak mampu memasukan anaknya ke sekolah.
Nasya semakin heran dalam hening malam yang hanya ditemani secangkir teh manis buatan ibunya dihalaman rumah. Ia semakin yakin dengan dunia pendidikan yang semakin menjanjikan. Orang-orang kaya rela memasukan anaknya ke sekolah favorit, walaupun itu harus mengeluarkan banyak rupiah. Berharap kelak anaknya mampu mewarisi kekayaan keluarganya dan mampu memimpin perusahaan keluarga.

Aku telah merasakan kemerdekaan, kata Nasya sambil menikmati teh manisnya. Ia terus berkelana dalam pikiran sehingga ia lupa akan harapan dan mimpinya. Hanya bisa membayangkan dan tersenyum sendiri tanpa ada seseorang yang memberikan inspirasi baginya. Angin malam tak peduli, rembulanpun hanya ikut tersenyum melihatnya.
Ya…aku telah merasakan kemerdekaan bagi mereka penikmat dunia. Aku bangga menjadi anak bangsa yang dibesarkan dengan berlimpah sumber daya alam. Meski orang asing yang bisa memanfaatkannya, bukannya tidak mampu untuk mengelola akan tetapi merasa kasihan saja. Sebab bangsaku adalah pancaran kilauan cahaya surga.
Aku adalah anak zaman, bisik kecilnya pada batu-batu yang ia pegang. Apa kau tahu wahai bebatuan, engkau ini memiliki nilai manfaat sehingga terkadang engkau diperebukan. Apa engkau tidak ingin protes atas apa yang menimpa dirimu. Sehingga engkau terluka dan dibuang ke negeri tetangga.
“Nasya ayo masuk, nih makan malam sudah siap”, panggil ibunya.
“Iya..Bu”, Nasya menghampiri ibunya dan siap untuk makan bersama. Keluarga yang hanya dihuni sepasang ibu dan anak. Rasa syukur masih menjadi miliknya, rumah tempat tinggalnya milik sendiri, jika dibandingkan dengan para pendatang yang ingin hidup di kota.
“Bu, kenapa ibu tidak masukan Nasya ke sekolah. Nasya ingin sekolah bu, meski umur Nasya sudah enam belas tahun. Kan bisa ikut kejar paket Bu”, pintanya.
“Dari dulu kamu selalu ingin minta sekolah. Bukannya ibu tidak mampu mensekolahkanmu. Tapi ibu ingin mendidikmu sendiri”. Sekolah itu hanya bagian dari tempat mencari ilmu. Pengetahuan yang sesungguhnya ketika kamu mampu menaklukan keinginanmu. Salah satunya menaklukan niat untuk sekolah”, ibunya betutur kata yang tidak menginginkan anaknya menjadi korban sekolah.
“Memang apa jeleknya sekolah”, sahut Nasya.
“Sekolah itu tidak jelek. Sekolah itu bagus”.
“Terus kenapa ibu tidak mensekolahkan Nasya”.
“Mengapa engkau ulangi lagi pertanyaanmu”. Percayalah pada ibu, taklukan keinginan yang ada pada dirimu dan terimalah yang menjadi kebutuhanmu.
Malam kian larut, Nasya dan ibunya melanjutkan aktifitas malam dengan mimpi-mimpi yang indah. Nasya semakin berhamburan dalam memori otaknya, mengeja kalimat disetiap perkataan ibunya.
Pikiranku semakin lelah, untuk menerjemahkan kata-kata bijak. Aku hanya bisa menerjemahkan bangsaku. Terutama ketika mereka memakai seragam yang begitu rapi dengan tas yang indah. Namun aku tidak boleh berkecil hati, meski aku tidak sekolah tapi aku bisa belajar kepada teman-temanku.
“Koran pagi pak. Ada berita baru, pemimpin kota tersandung masalah korupsi”.
“Koran-koran”, hirup pikuk lalu lalang mobil dan kendaraan di lampu merah jalananan. Nasya menikmati hidup jalanan, namun beribu-ribu pengetahuan dan informasi ada pada gengam tangganya. Ia seorang remaja putri penjual Koran.
Sehabis menjajakan korannya Nasya pulang dan merawat setiap Koran-koran bekasnya. Ia kumpulkan satu-demi satu sesuai dengan bidang masing rubrik. Ternyata ia mengumpulkannya untuk membuat kliping. Ibunya selalu tersenyum ketika melihat putri semata wayangnya, merapikan dan membaca Koran. Dibantu ibunya membuat kliping supaya rapi dan enak untuk dibaca.
Ibunya setiap semingu sekali selalu membelikan buku dan peralatan tulis untuk Nasya. Meski ia tidak bekerja, namun ia mendapatkan pensiun janda dari mendiang suaminya yang dahulu memang seorang guru pegawai pemerintahan. Ayahnya meninggal, namun belum sempat melihat wajah Nasya karena masih didalam kandungan. Ia selalu ingat pesan suaminya untuk anaknya, jadikan anakku orang yang bijak.
Kliping dan buku yang dimiliki Nasya, tidak hanya dikonsumsi untuk pribadi. Nasya sungguh luar biasa, ia mampu mengamalkan suatu ilmu yang dalam yakni ketika kamu memberi maka pemberianmu akan dilipatkan. Hal itu terbukti ketika Nasya meminjamkan buku dan klipingnya, sehingga sekarang Nasya memilik rumah baca.
Pada suatu malam yang bulan tak kunjung datang. Nasya semakin sadar akan maksud dari ibunya. Inti hanya bagaimana aku menjadi bijaksana dan tentu penuh dengan kearifan. Ia lambaikan tangannya ke langit. Aku tahu bangsa ini dipimpin orang bertitel sekolah, dan wakil rakyatnyapun orang-orang lulusan perguruan tinggi. Namun tingginya mereka hanya sebatas ingin mendapatkan kursi yang enak untuk diduduki.
Rasa hormat diukur dari jabatan dan bukan pesan moral. Apakah kau tahu, jabatan menggelabui rasa hormat. Jika engkau mengundang para pejabat yang dihadiri oleh wali kota dan wakil walikota tentu yang lebih di hormati adalah wali kotanya terlebih dahulu. Tapi kenapa jika yang datang dewan perwakilan rayat, mereka juga harus dihormati. Padahal mereka itu wakil rakyat yang seharusnya di hormati adalah rakyat.
Rakyat semakin menderita, korban lapindo yang tak kunjung segera untuk diselesaikan. Hendak kemana tikus akan berlari, jika semua jalan kau kotori. Korupsi sudah menjadi kegiatan rutin yang harus dijalankan pada setiap programnya, hingga terlupakan program utama untuk mensejahterakan rakyatnya.
“Sya, ngapain kamu di situ”, Sita yang barusan pulang dari jam kerja lemburnya.
“Ngak ada apa-apa Mbak Sit”, Sita mendekati Nasya. Tampak rok mini dan baju seksi yang menutupinya menjadikan hidup penuh warna-warni.
“Gimana jualan Koran dan rumah bacanya”.
“Alhamdulillah Mbak, korannya makin laris dan rumah bacanya makin ramai”.
Ya sudah kalau gitu, Mbak Sita pulang dulu. Ia mengeluarkan satu lembar ratusan ribu untuk diberikan. Nasya menolak pemberian tersebut. Tapi Sita terus memaksa, ia berikan untuk pembelian buku untuk rumah baca. Dengan terpaksa Nasya menerima, sambil ia mengucapkan terima kasih.
Nasya tau kalau tetangganya bekerja di club malam. Demi sesuap nasi ia berani mengadaikan kulit dan wajah yang begitu putih dan cantik. Semua karena kebutuhan, baik itu pencuri, perampok ataupun bahkan koruptor. Dengan alasan kebutuhan, yang jelasnya pasti kebutuhan ekonomi.
Hari makin larut, iapun menuju kamar ibunya yang sudah terbaring dan ikut tidur bersamanya. Karena ia tau akan tugasnya besok, sebab setiap penghasilan yang ia peroleh selain di tabung ia gunakan untuk memfasilitasi rumah baca. Ia berharap kelak, memiliki sekolah komunitas yang disana tidak terkekang dengan sistem dan atura yang kaku.
“Koran…koran…koran, hanya Rp. 2.500 mendapatkan informasi yang beragam”.
“Korannya Dek”, pinta kenek sopir truk.
“Maaf Pak, ada uang kecil”.
“Ni Pak, uangnya. Di bawa aja korannya, ngak usah di bayar. Sebab saya lagi ngak punya uang kembalian”.
“Ya..udah kalau gitu, ini terima uangnya. Ngak usah ada kembalian, buat kamu aja”.
Terima kasih pak, semoga lancar perjalannya. Secara mengejutkan, ketika hendak berjalan menuju trotoar Nasya terserempet mobil iring-iringan Gurbernur yang lagi lewat. Ia sebenarnya tahu akan suara sirene tersebut. Nasya terkapar, raut wajahnya yang putih kini berlumuran warna merah pekat.
Nasya tidak sadar diri, beruntung saja ditempat kejadian ada pos ojek. Melihat keadaan semacam itu, salah satu pengendara ojek melarikan Nasya ke rumah sakit terdekat. Andik sangat dekat dengan Nasya, sama-sama mencari uang di jalannan. Sehabis mengantarkannya, Andik segera pergi tempat dimana kampong Nasya tinggal. Karena ia pernah sekali mengantarkan pulang.
Ibu itupun terkejut mendengar berita tersebut. Andikpun segera menacap gas montornya. Sebab di rumah sakit, membutuhkan administrasi pendaftaran dari pihak keluarga. Ia melihat anak semata wayang tidak berdaya. Ya…Allah, berikan jalan terbaikmu, ucap ibu.
Selang beberapa waktu dokter, keluar dari ruang unit gawat darurat. Bagaimana dok keadaan anak saya. Dengan menghela nafas, dan seakan tidak ingin mengucapkan. Dokter itu beberpa patah kata memberikan nasehat dan saran. Ia pun terkejut, mendengar ucapan dokter.
“Apa anakku, patah kaki dan ia tidak bisa berjalan”, tangisan ibu seakan membanjiri rumah sakit. Ia ingin masuk ke ruangan anaknya, tapi suster belum bisa mengizinkannya.
Ini bukan takdir, ini hanya cobaan bagi mereka yang ingin memperjuangkan suatu kearifan. Selain menjadi mandiri untuk diri sendiri, bisa memberikan manfaat kepada orang lain.
Diatas kursi roda Nasya hanya bisa memandang rumah bacanya yang makin ramai dan banyak program kegiatan yang ia rancang. Ibunya mendorng kursi roda itu, mengajaknya memutari halaman rumah dan air matanya seakan ingin keluar. Tapi ia menahannya, anaknya yang begitu tegar, kenapa aku menjadi cengeng, kata ibu.
* * *
Anakku kau pernah menanyakan kenapa ibu tidak memasukan kamu ke sekolahan. Sungguh engkau telah menjawabnya, hingga engkau berkeinginan untuk mendirikan sekolah. Ibu tidak ingin melihatmu bermimpi dalam ruangan sekolah. Namun bermimpilah melihat orang-orang di yang engkau temui.
Terima kasih wahai engkau ibu tercinta. Karena engkau aku tetap tegar dan siap mengarungi bahtera keluarga dan kelam dunia. Meski ada kekurangan dari diriku, namun aku tunjukkan kelebihanku. Pada akhirnya kelebihan itu menutupi kekurangannya.
Nasya memandangi lukisan bergambar dirinya di gendong oleh ibunya. Lihat ibu, ini cucumu, kelak ia akan jadi orang hebat yang bijaksana. Wahai ibu semoga Allah memberikan tempat terindah untukmu.
* * *
Minggu, 24 Juni 2012

Tu(Han) Presiden

Selasa, 28 Agustus 2012

Derap-derap langkah kaki terdengar seiring angin kecil berhembus di dalam ruangan auditorium pertemuan. Kaki itu muncul berhiaskan sepatu hitam dinas, pakaianya parlente dan nampak jas dan dasi memenuhi sekucur tubuhnya. Perlahan waktu orang-orang telah memadati arena tersebut, layaknya arena pertandingan sepak bola. Sorak-sorak gembira dan tepuk tangan menyambut kedatanggannya.

Wajah cakrawala yang kian berwarna merah padam muncul dari sedan berwarna hitam. Cakrawalanya kian bersinar terang menghijaukan sisi-sisi ruangan. Mungkin matahari telah lama bermimpi dalam peraduan indah gemilang bidadari surga. Sesosok manusia penuh karisma keluar melambaikan tangan, membungkam suara-suara yang penuh dengan ke-egoan. Teriakan para manusia kerdil menghantam janji-janji yang di bumbui dengan sugesti.

Terik mentari dan debu-debu seakan memadu kasih menciptakan romantisme picisan menyambut kedatangannya. Kehadiranya dianggap sebagai sesosok satrio piningit dengan berbekal visi yang lebih maju untuk negeri tercinta. Para pecintanya terlelap asyik mendengarkan khutbah kemerdekaan, mendayung waktu dalam pergulatan zaman yang lebih demokratis.

Tanpa penuh kesadaran, sekarang para pecinta telah menjadi ruh dan nyawa bagi pemimpinnya. Mereka rela melakukan apapun bahkan nyawapun menjadi taruhan, yang terpenting orang yang ia cintai dapat menduduki nikmatnya istana negara.

”Wahai pendukungku, akan aku ajarkan bagaimana demokrasi yang sesungguhnya. Bahwa perubahan dilakukan melalui hal terkecil yaitu melalui teriakan kalian untuk mendukungku”. Ucapan satrio piningit menghempas ke seluruh auditorium.

Pernahkan para pecinta kembali menjelajahi isi hatinya. Pada hakekatnya setiap diri mempunyai hak untuk mendukung dan memiliki kewajiban yang harus ia kerjakan. Namun disadari atau tidak, pada realitasnya para pecinta tetap menjadi nyawa untuk pujaannya.
”Eh...Man! Sudah jam berapa ini, sepertinya kok mentari sudah condong ke barat ?. Tanya Sugeng kepada Herman.
”Baru jam setengah tiga, emang ada apa to kok nanya jam segala ?”. Sahut Sugeng.
”Tahu ngak Man, kita disini berdiri sudah hampir 5 jam. Apa kau lupa ini sudah saatnya shalat dzuhur”.
”Oh..ya, hampir kelupaan. Tapi nangung lah acaranyakan hampir selesai. Ntar nggak kebagian amplop lho. Kasian tuh istri dan anakmu menunggu dirumah, sedangkan engkau tinggal shalat malahan kau tidak dapat amplopnya”. Herman mengajak sugeng.
”Tapi...!”.
”Ngak usah pakai tapi, lha yang punya acara saja lupa. Kita juga seharusnya ikut-ikutan lupa.
”Gitu ya...Man!. Ya udah”.
Waktu seakan memutar cepat, sesuatu yang diharapkan dan menjadi banyak incaran kaum pecinta. Bungkusan berwarna putih itu pastilah amplop yang telah digengamnya erat. Seorang manusia rendah berlari dengan tergesa-gesa memberikan salam kepada pujaanya.
”Terima kasih atas dukungannya, semogga ini bukan kali terakhir engkau menjadi para pecintaku”. Pesan terakhir untuk para pecintanya.
Dua sahabat Sugeng dan Herman berjalan dengan penuh keriangan, cara pandangnya mengatakan bahwa untuk tiga hari ini mereka bisa makan enak.
Orang yang di cintaipun beranjak pergi dengan sedan mewahnya dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Sedangkan mereka berdua hanya bisa berjalan dengan di fasilitasi terik mentari. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya hanya mampir untuk di lewati, bukan di terjemahkan untuk bisa menjawab problema kehidupan. Tapi sangat sederhana sesungguhnya manusia hanya ingin menikmati kebahagiaan sementara yang penuh dengan kenyataan. Bukan omong kosong yang dibungkus dengan kemunafikan dan iri hati.
Bagaimana merumuskan demokrasi untuk negeri tercinta, yang berjubel dengan orang-orang besar dan pintar. Pada gilirannya membentuk sistem yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang bermental miskin. Apakah orang kecil yang menjadi pusat pergeseran untuk menaklukan sistem. Problem yang tidak dapat dihindari oleh gerak-gerik manusia yaitu berupa materi. Apa lagi berfikir agama dan problem hermeneutik yaitu suatu hal yang berkaitan dengan proses tingkah laku pemahaman keagamaan.

* * *

Orientasi tersebut telah membutakan mata hatiku bergulir seiring perubahan yang tidak kenal henti. Mereka kaum pecinta melangkah dalam pembuktiannya untuk berinteraksi dengan diriku. Ini lah aku yang hanya bisa terbaring lemas diantara dua roda tanpa kaki. Aku hanya bisa memandang indah dunia dengan kedua mataku, namun aku tidak bisa menikmati langka kaki untuk menginjak bumi dan berlari kencang memetik bunga-bunga ditaman.

Kutukan pecinta itu menghantui hidupku, semua yang aku ucapkan seperti layaknya wahyu Jibril. Tangan-tanganku ini seperti berkah yang memberikan rizki, tetesan keringatku seperti halnya air zam-zam yang dapat menyembuhkan. Kemana Tuhan, apakah ia telah lari dan bersemubunyi di balik tirai, aku yang bodoh ataukah para pecinta yang amat keterlaluan terhadapku. Mereka telah menjerumuskanku dalam lembah kehinaan, sedangkan mereka sedikit kenikmatan namun sangat mensyukurinya.

Aku dan pecintaku hanyalah buah karya Tuhan yang paling agung dan unik. Pada awalnya penciptaan manusia, semua malaikat merasa kurang sepakat dengan penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi, tapi mereka tetapa bersujud kepada manusia yang penuh dengan kehinaan sebagai bukti cinta kepada tuhannya. Sedangkan kaum pecintaku hanya mencintai bungkusan putih yang hanya berisi beberapa rupiah.

Maafkan aku wahai pecintaku. Ampuni hambamu Ya...Tuhan, Engkaulah segala dari ke-Mahaan tidak ada daya dan upaya selain asma-Mu. Aku tidak akan melupakan kejadian itu, saat mobil sedan yang ku tumpangi terperosok kedalam jurang. Kini mimpi-mimpi itu telah sirna, ditelan heningnya malam bulan purnama.

Melalui sujud taubatku ini, aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk negeri tercinta demi kemakmuran dan kesejahteraan untuk semua. Aku meyakini bahwa setiap manusia memiliki ruh yang merupakan saripati kesucian. Dimana di dalam ruh itu terkandung keimanan berupa kalimat “Laailaaha Illallah” dan “Asmaaul Husna”. Karena setiap ruh itu suci yang semestinya selalu berdzikir dan melakukan hal-hal yang baik, bukan menjadi tu(h)an presiden.

* * *

Sangat sederhana dalam merumuskan demokrasi, kita berhak memilih dan dipilih namum semua ada sistemnya. Sistem terbentuk karena adanya keinginan untuk mendapatkan yang terbaik di sisi-sisi singasana dipenuhi dengan limpahan intan permata. Sosok Herman dan Sugeng hanyalah manusia yang mencinta, ketika ia membenci atau menyukai akan mendapatkan perlakuan berbeda. Seperti halnya mendapatkan sedikit materi. Setiap insan menghendaki keabadian dan kemapanan hidup serta merasakan hal-hal yang menciptakan kenyamanan.

”Sekarang sudah tidak terdengar lagi suara-suara demokrasi”. Tanya Herman kepada Sugeng dengan sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi di warung makan Mbok Yuni.
”Iya...ya. Kau kan tahu sendiri si Firman Hadi Sutrisno itu mengalami kecelakaan dan sekarang ia hanya bisa duduk di kursi roda. Semua hartanyapun hampir habis untuk berobat”.

”Makanya kalian tu harus bersyukur, walau ngak punya uang tapi tetap sehat dan dapat menikmati makananku”. Mbok Yuni ikut-ikutan ngomong.

Keanehan muncul dari warung kecil di pertigaan jalan. Kicau burung bagai Sang Khidir mengajarkan cinta untuk Nabi Musa, sang pecinta telah lupa pada siapa yang namanya Firman Hadi Sutrisno seorang pengusaha sukses. Kenistaan ini muncul bisa dari ketinggian dan kerendahan. Di sisi lain demokrasi telah di kotori oleh kedurhakaan pecintanya dan cahaya mulai redup ditangan manusia yang tidak lagi memiliki materi. Pantaskah kita berfikir menjadi khalifah di bumi, sedangkan kita semua berebut untuk mendapatakan jabatan dan kehormatan.

Kau tercipta dari tanah dan merupakan simbol kebusukan, kekotoraan dan kenistaan. Dengan materikah engkau ingin memulyakan harkat, martabat dan takwamu. Tidak semua hanya awal dari sebuah akhir ”eling marang sangkan paraning dumadi”. Tujuan kita hidup adalah untuk mengabdikan diri menuju ke haribaan-Nya, maka janganlah kau kotori dengan noda-noda dusta dan durhaka serta materi semata.

Semarang, 20/02/09 (22.06 WIB)

Kebebasan untuk Ardi

Senin, 27 Agustus 2012


Terbit di Bulletin Suket Teki SKM Amanat IAIN Walisongo Semarang

“Apa yang telah kau bawa dan mengapa kau telusuri jalan-jalan di tengah gelap malam seperti ini”. Desir angin di tengah malam pekat gulita semerbak wangi bunga, suara itu muncul di balik semak-semak perasaan orang ingin mencari sesuap nasi.

“Tidak aku hanya ingin memasang sepanduk calon pemimpinku yang telah memberikan aku sesuap rupiah di kantongku”. Jawaban itu muncul dari hatinya yang yakin bahwa dirinya tidak akan melakukan kesalahan dan memang ia memikul tanggung jawab untuk memasang apa yang telah di perintahkan atasanya.

“Engkau masihkah di antara kesadaran atau kau hanya melaksanakan karena rupiah telah membungkus kaki dan tanganmu, apakah engkau tidak merasakan bahwa dirimu telah memadamkan kehijauan kota dengan menutupinya dengan wajah-wajah yang belum tentu berperangai mulia”.

“Ya…inilah perebutan kursi kekuasaan dan mereka semua merebutkannya serta tidak ada yang menggalah sebelum perhitungan tercapai kesepakatan. Apakah kau tahu bahwa diriku hanya bisa memanfaatkan momentum ini. Apakah aku bisa duduk di kursi jabatan yang mana aku tidak mengerti hal apa yang menarik di sana. Aku hanya bisa menarik becak kumuh ini.”

Seketika itu pohon-pohon taman kota telah rimbun dedaunan yang berwarna-warni ada yang merah, hijau, kuning, biru pokoknya sangat beragam jenis. Dedaunan itu saling bersaing dan tidak terjadi kerukunan yang semestinya di jaga untuk satu persatuan. Namun persatuan itu hanya di tulis dengan berbagai moto kemakmuran dan kesejahteraan bagi mereka yang mau mendukung salah sutu warna. Alangkah indah kegelapan di malam ini yang sangat pekat dan hitam. Hati dan jiwaku seakan menjadi tenang di tengah sinar rembulan yang tidak begitu terang sebab sang rembulan telah di tutupi awan berwarna biru pekat untuk menyelimuti indah sinar cahayanya.

Tidak ada bintang yang menyala. Tidak ada hiasan apa pun di tengah kota ini, yang ada hanya bagunan bertingkat yang megah dengan dinding tembok yang begitu tebalnya. Tidak ada tirai terbuat dari batik dalam negeri, adanya hanya batik demokrasi untuk menentukan kesejahteraan bumi pertiwi. Tidak ada apa….., tapi ada sesuatau yang terlihat sesak di semua tempat di pingir jalan, trotoar, taman kota dan pepohonan di pingir jalan serta reklame, poster yang terpajang lebar di angkasa yaitu demokrasi politik.

Di antara kegelisahan hatinya, kupingnya telah terasuki kampanyae politik yang melantun penuh melodi kerinduan kemerdekaan. Otak-pikiran telah menjadi samudra yang siap menampung semua hal tentang keluh kesah untuk satu kemenangan. Ini adalah episode baru di tengah kota dan desa. Kalau kota mendeklarasikan untuk satu kemakmuran kekuasaan sedangkan desa tidak taulah. Yang tahu hanya penduduknya yang hanya menuruti semua hal yang menjadi kewajibannya sebagai warga negara.

Suatu ketika pernah datang calon pemimpin di desa Pak Kardi. Pemimpin itu sangat berwibawa dengan di iringi mobil-mobil mewah merk luar negeri, ya...pastilah Indonesia saja hanya tempat memproduksi dan tempat orang yang siap jadi budak untuk berkerja.

Pemimpin itu hanya memakai pakaian batik khas Pekalongan, mungkin ingin menyesuaikan dengan penduduk desa, dia tidak memakai jas berdasi yang biasa digunakan untuk bertemu pejabat satu letingnya. Tapi batik yang menempel di tubuhnya tidak sebagus pakaian yang menutupi tubuh penduduk desa.

Penduduk desa menyambutnya dengan kemeriahan. Tangan pemimpin penuh kecupan lipstick produk kampungan dan bibir-bibir yang ingin mengusap kelembutan tangan calon pemimpinnya yang diakui akan memberikan kemakmuran di desanya.

Suara rebana bertabuh semakin kencang, sekencang suara sirene polisi yang ingin menangkap penjahat. Shalawat badar menyambut, laksana kemenangan di dalam peperangan politik.
Di desa itu hanya di suguhi pengajian atau dakwah yang mengundang Dai ternama di tanah air ini. Dan semua penduduk desa menikmati penyampaian materi oleh Dai kondang tersebut, suara lembutnya telah menusuk hati penduduk desa. Setelah dai itu memberikan wejangan atau nasehat yang mengebu-ngebu tentang pemimpin yang berbudi untuk bangsa. Gantian calon pemimpin itu maju kepangung menyuarakan kampanye politiknya di hadapan penduduk desa.

Dan gemuruh tepuk tangan menghiasi keakaraban penduduk desa yang telah di janjikan berbagai kenikmatan dan kemudahan dan inilah janji poitik tawaran.

Tidak heran jika hiasan calon pemimpin juga masuk desa, bukannya pembangunan yang semestinya masuk desa malahan perebutan kekuasaan pendukung dan simpatisan.

Pak Kardi hanya pengayuh becak yang mencari rizeki penumpang di pasar dan desaku telah ramai dengan gosip politik, yang mereka tahu hanya bagaimana gizi bisa menambal perutnya bukannya visi dan misi pemimpin yang mereka kampayekan.
* * *

Pagi itu banyak orang berkerumun di sekitar lapangan sepak bola, bukan maksud ada turnamen tapi ini adalah mereka berseragam berwarna biru. Warna biru telah memadatinya seperti langit terang dengan kecerahan bukannya mendung yang di harapkan.

Ada beberapa ibu-ibu dan anaknya bertengger di bawah pohon beringin, karena terik matahari semakin terus meninggi menyilaukan wajah kusutnya, seperti biasa mereka menunggu kicauan burung ingin menetaskan telur. Ibu-ibu itu asyik ngobrol beberapa persoalan tampak anak-anaknya bermain sendiri di tengah kerumunan masa. Satu, dua, tiga kicau burung berbunyi, wajah-wajah kepanasan berseri-seri.

“Aku adalah satu yang akan memberikan kemakmuran. Bukankah itu nyata dan tidak ada kemunafikan”. Tuan berwarna biru berjaskan hitam dengan dasi yang berkilauan berwasiat.

“Suaraku ini bukanlah raksasa yang kelaparan dan menunggu mangsa. Tapi suaraku adalah mimpi kalian, harapan kalian semua yang ada di tengah lapangan ini”. Suaranya semakin tegas dan meyakinkan.

“Alangkah hinanya aku jika kalian sengsara dan aku akan membuat hidup kalian semua tidak lagi di bawah garis kemiskinan”.

Dan pagi telah mengantar siang mendiskusikan permasalahan negeri yang kaya duniawinya. Kemudian pemimpin itu keluar dari pangung seketika itu pula banyak orang yang ingin membelai manis tangannya di tengah kerumunan masa. Mobil sedan berpacu pelan melambaikan tanganya ke arah masa.

“Ya...Allah sudah hampir pukul dua siang. Aku belum menjalankan ibadah shalat”. Pak Kardi kaget seketika matanya yang melirik jam orang di sampingnya.

Bergegas Pak Kardi menghampiri istri dan anaknya yang bercengkrama di bawah pohon dan terlihat anaknya berlari-lari kecil menghampiri pangilan bapaknya.

“Ardi ayo kemari sudah besar ya sekarag kamu, sana ajak ibu ke becak”.

Pak Kardi berjalan mendekati becak yang menjadi tumpuan hidupnya. Namun masa yang begitu banyaknya membuat dirinya kesulitan karena banyak berjubel kendaraan, mobil dan truk memadati area parkir. Untung saja Pak Kardi sangat gesit, di kayuhnya becak yang telah di tumpangi istri dan anaknya untuk menuju masjid terdekat. Kecepatan ayunan hanya memberikan sedikit ruang bergerak, banyak mobil dan kendaraan berlalu-lalang dengan benderanya menutupi semua pandangannya.

Kepala Pak Kardi semakin pening. Sakit kepala yang di deritanya sejak satu bulan lalu seakan kambuh lagi, pandangannya mulai kabur, penglihatanya semakin tidak tajam. Ternyata sakit kepalanya sangat berpengaruh pada matanya.

“Brak”.

Mobil berplat kuning telah menabrak becak tua. Seketika itu Pak Kardi terjatuh tidak sadarkan diri, darah keluar dari badannya menembus pakaian yang membungkus kulitnya. Kerumunan masapun sedikit terganggu, mata-mata itu melirik dan mendekatinya ingin melihat kejadian tersebut. Mereka berjubel menyaksikan seorang bapak dan keluarganya yang tertabrak bus angkutan umum. Sejenak waktu masa melanjutkan pawai menuju daerah yang menjadi rute perjalanan kampanye.

“Ardi”.

“Apakah ini kesejahteraan yang kau impikan, apakah ini mimpimu yang engkau cita-citakan”. Teriakan itu muncul dari mulut Pak Kardi yang belum tersadarkan. Ternyata dirinya telah berada di rumah sakit daerah.

“Mana anak dan istriku”. Teriak Pak Kardi pada salah seorang yang berada di sampingnya.

“Sabar ya...Pak, istri bapak ada di ruang sebelah dan tidak apa-apa coba lihat saja”. Pemuda itu menatap kearah pandangan Pak Kardi dengan kepercayaan yang mendalam.

Bergegas Pak Kardi menuju ruangan istrinya. Dalam pikirnya hanya terlintas pada kondisi kesehatan istri dan anaknya si Ardi, bukanya berapa duit untuk membayar biaya berobatnya. Matanya dan hatinya tersontak diam beribu kata.

Di lihatnya istri tercintanya menagis tersedu-sedu di ranjang berwarna putih di bawah telapak tangan ardi yang lemas dan belum sadarkan diri. Ardi telah mengalami benturan keras yang mengakibatkan kesadarannya belum kembali.

Tubuh Ardi penuh dengan luka, darah merah sedikit keluar dari tubuhnya namun matanya belum mampu melek tajam. Pak Kardi bersimpuh di pangkuan istrinya seraya meminta maaf.

Tangis air mata suami istri menyinari seluruh isi ruangan atas keperihatinan Arjuna yang beranjak remaja.
* * *

Wong ngaurip wus tamtu, akeh padha arebut piyangkuh, lumuh lamun kasor kaseser sathithik, nanging singa peksa unggul, ing wekasan dadi asor.1

“Ardi anakku maafkan Bapakmu ini yang telah mengajarkanmu tentang kebebasan dan demokrasi. Orang hidup itu selalu ingin mendapatkan kenikmatan dan kekuasaan”.

“Ardi anakku Bapakmu akan memberikan segalanya untukmu kemakmuran, kebahagiaan dan kesejahteraan bukan orang lain, maafkanlah perbuatan Bapakmu yang salah mengajarkanmu tentang gengsi kota. Tidak seorang pemimpin yang berebut kekuasaan yang menjerumuskan dia menjadi orang hina”.

“Untuk Ardi dan Istriku sabarlah di perbaringan ini, Bapakmu akan mencarikan uang untuk membawamu ke gubuk indah yang kita miliki di desa, bukanya kota yang penuh janji-janji dan mimpi. Bukan hina yang kita inginkan tapi kemulyaan di sisi Tuhan, banyak pemuka agama, konglemerat, pendidik dan politikus belajar demokrasi yang tidak tahu arah yang mengakibatkan terjerumus di lembah kehinaan dan syahwat nikmat dunia serta nafsu menjadi orang nomor satu di negeri republik tercinta”

“Tunggulah Bapakmu untuk kembali dalam kebahagian keluarga yang kita idamkan”.

Pak Kardipun menuju mushola yang berada di rumah sakit. Ia jalankan kewajibannya sebagai orang yang beriman, namun jiwanya semakin terluka ketika melihat Ardi anak semata wayangnya ia ajarkan tentang demokrasi yang sebelumnya belum pantas untuk di terima.

“Ampunilah hambamu ini Ya...Tuhan yang maha pengasih dan penyayang. Aku telah melakukan kehinaan, kebohongan, kemunafikan dan kebodohan dengan kalimat demokrasi untuk anak dan istriku.

* * *
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mahasciena
Copyright © 2011. Mahasciena - Lukni Maulana - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Lukni Maulana
Present by Rumah Pendidikan Sciena Madani