Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Budayakan Memberi Bertajuk Berbagi Buku

Rabu, 26 Desember 2012


BOJONEGORO-Buku sangat berarti untuk perkembangan pengetahuan, sebab dengan buku ia akan membuka jendela dunia. Buku memberikan beragam informasi dari masalah teknologi, pendidikan, ilmu pengetahuan maupun agama. Hal inilah yang mendasari Lukni Maulana melalui komunitas Sciena Madani yang ia dirikan untuk saling memberi salah satunya dengan memberikan buku.

Melalui kegiatan yang bertajuk “Berbagi Buku” ini Sciena Madani berusaha turut serta untuk mewujudkan tatanan masyarakat supaya memiliki kegeamaran dalam membaca sebab melalui membaca inilah kita akan mengetahui perkembangan terkini dan mengetahui yang lampau.

Bertempat di Taman Baca Sanggat Pramuka Bojonegoro, Lukni Maulana memberikan beberapa koleksi buku untuk diberikan kepada Taman Baca SiNom Bojonegoro yang diasuh oleh Didik Jatmiko. Selain memberikan koleksi buku, diisi dengan beragam pengalaman mengelola perpustakaan dan bagaimana bisa ikut serta mencerdaskan masyarakat.

“Semoga buku ini bermanfaat, seperti nama SiNom yang berarti minuman. Buku ini dapat menjadi minuman segar untuk mereka yang haus akan ilmu pengetahuan”, tutur Didik.

Melalui program Berbagi Buku ini diharapakan bias memberikan pencerahan kepada masyarakat untuk memiliki kegemaran dalam bersedekah dan menuntut ilmu terutama aspek membaca. Sciena Madani memberikan fasilitas penyaluran buku bagi mereka yang ingin memberikan sumbangan buku. Penyaluran buku tersebut dapat dikirimkan ke alamat Banjardowo Rt 2 Rw 6 Genuk Semarang 5017 atas nama Lukni Maulana dengan Sms Center: 085641957127.

Ansor Genuk Galakkan “Jambaninasi”

Kamis, 15 November 2012

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online) 


Ada beragam cara untuk memeriahkan peringatan hari sumpah pemuda, seperti upacara bendera, musikalisasi puisi, maupun pemutaran film dokumenter tentang perjuangan anak bangsa. Lain lagi dengan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor  dan Banser Genuk Semarang. Organisasi kepemudaan Ansor dan Banser ini menggelar hajatan berupa pembangunan jambanisasi dan syukuran.

Bertempat di rumah Mulyadi warga Sembungharjo Rt 2 Rw 2 Genuk Semarang, jambanisasi dibuat, Ahad (11/11). Mulyadi merupakan salah satu warga di kecamatan Genuk yang tidak memiliki WC atau jamban. Maka Ansor turut serta mewujudkan kepedulian lingkungan dengan pembangunan jamban.

Masih banyak masyarakat Semarang khususnya wilayah Genuk yang tidak memiliki jamban yang steril, masyarakat sebenarnya memiliki jamban namun masih sangat sederhana yang bisa berakibat banyaknya penyakit. Apalagi sekarang musim penghujan, kata Muhammad Sodri selaku Ketua PAC GP Ansor Genuk.

Jamban menjadi kebutuhan vital yang harus dimiliki setiap rumah tangga, tentu jamban yang memiliki standar kesehatan. Kegiatan jambanisasi ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan, apalagi menjadi seorang pemuda sebagai orang yang memiliki tanggung jawab dalam meneruskan gerak pembaharuan bangsa dan negara.

Sumpah pemuda bukan hanya sekedar diperingati tiap tahunnya, namun sebagai pemuda kontribusi apa yang kita bisa berikan bagi negeri ini. Melalui bentuk kontribusi baik kepedulian lingkungan maupun karya pemuda sangat di tunggu oleh masyarakat.

Banser Kawal Jamaah Haji NU

Senin, 08 Oktober 2012


Terbit di NU Online www.nu.or.id
Ratusan para pengiring jamaah haji membanjiri masjid Baitul Mutaqin Genuk, yang ingin megiring para jamaah haji menuju Masjid Agung Jawa Tengah, Sabtu (6/10). Jamaah haji dari jamaah nahdliyyin di wilayah Genuk ini mencapai empat puluh delapan orang. Acara di gelar dengan sangat sederhana, yang bermaksud untuk lebih dekat kepada calon tamu Allah.

Pelepasan kepada jamaah haji merupakan tradisi masyarakat untuk memohon doa keselamatan. Semoga para pengiring juga bisa dan mampu menunaikan ibadah haji sebagai tamu Allah. Di harapkan kepada jamaah untuk sementara sedikit melepas masalah duniawi dan urusan keluarga. Untuk fokus dalam ibadah dan ritual-ritual wajib ibadah haj.

Kumandang talbiyah, menandakan tradisi tersebut berakhir, para Banserpun disibukan dengan mengawal para jamaah dan tentunya para pengiring yang membawa mobil, angkutan maupun kendaraan pribadi. Sehingga membuat jalan raya penuh sesak, namun kemacetan tersebut dapat diatasi oleh sigapnya para Banser.

“Semoga para jamaah haji mampu menjalankan ibadah dengan khusuk dan pulang dengan selamat,” kata Suyatno anggota Banser dari Ranting Banjardowo.

Akidah Nyasar

Minggu, 16 September 2012


Baru-baru ini PAC GP Ansor Genuk mengadakan kajian yang berorientasi pada idiologi atau akidah. Kajian yang diadakan di di aula Masjid Baitul Mutaqin Genuk.

Di buka oleh ketua Muhammad Sodri, diiringi musik rebana yang dimainkan apik oleh anak-anak IPNU Genuk.
“Penanaman nilai-nilai idiologi sangat dibutuhkan, khususnya di kalangan pemuda. Di mana pemuda ataupun remaja sangat riskan sekali dengan akidah-akidah yang bertentangan dengan ahlussunah wal jama'ah,” tuturnya.

Para peserta sangat antusias sekali dalam mengikuti forum yang membahas tentang akidah ini. Dengan pembicara yang sudah tidak asing bagi peserta yakni KH M. Bukhari Masruri.

Ia berpesan kepada warga Nahdiyin untuk menjaga akidahnya. Karena sekarang sudah banyak akidah-akidah baru muncul.
“Jika punya anak, di pondokan atau diberikan kuliah agama yang berbasis ahlussunah waljama'ah,” pesan Bukhari Masruri.

Selain kegiatan kajian tematik, dalam pola penanaman akidah PAC GP Ansor juga mengajak para kadernya untuk selalu silatuhrahim ke alim ulama. Maka “Silatuhrahim Ulama,” juga menjadi program yang di rencanakan Ansor Genuk.

Rumah Pintar Buta Aksara

Selasa, 04 September 2012

 Terbit di Harian Umum Suara Merdeka www.suaramerdeka.com

Jika membincang propinsi terpadat penduduknya tentu semua akan menjawab pulau jawa. Ternyata dibalik itu semua ada fenomena yang sangat ironi sekali yakni banyaknya penduduk yang menyandang buta aksara. Menurut sumber pulau Jawa menyumbang angka penduduk yang mengalami buta aksara dengan peringkat teratas. Di peringkat pertama adalah Jawa Timur dengan 10,47 persen, sementara Jawa Tengah di tempat kedua dengan 9,42 persen.

Buta aksara merupakan nama populer dari mereka yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung. Sekalipun mereka bisa menjalani kehidupan ini dengan layaknya orang lain. Namun sangat tidak logis, sebab mereka cenderung mengalami kekurangan, keterbelakangan, dan bahkan merendahkan derajat bagi kaum penyandang buta aksara.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pemberantasan Buta Aksara (PBA) pada tahun 2009 ini merupakan tingkat lanjutan dengan diterjunkan untuk melanjutkan program sebelumnya yaitu Sukma 1 dan Sukma 2 yang berada di Kabupaten Kendal. Bahkan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah memberikan program Keaksaraan Fungsional (KF) setelah dari Tim KKN tematik PBA.
Pada KKN Tematik PBA kali ini sebagai program lanjutan tentu memiliki tujuan khusus yaitu memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat yang masih rendah kemampuan keaksaraan, meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan mengembangkan kemampuan berfikir praktis, analitis dan rasional sehingga dapat memanfaatkan potensi diri dan sumber-sumber kehidupan yang ada di lingkungannya.

Sehingga diharapkan pada tahun 2009 penduduk yang mengalami buta aksara dapat dituntaskan secara penuh. Namun lain lagi dilapangan, semenjak terjun hampir tiga minggu ternyata mereka masih kesulitan dalam belajar baca, tulis dan hitung. Walaupun sudah ada beberapa yang sanggup tertuntaskan. Padahal mereka sudah diberikan program sampai tiga kali namun tetap masih mengalami kesulitan dalam pembelajaran.
Saat ini jumlah warga yang menyandang buta huruf di Kendal sebanyak 8.700 orang, yang sebelumnya tahun 2008 sebanyak 13.900 (sumber pendataan team KKN). Sebagian besar dari mereka bermukim pada sejumlah desa di pesisir pantai utara, seperti Kecamatan Rowosari, Kangkung, Kendal Kota, Weleri, Cepiring, Gemuh dan Kaliwungu. Serta pada wilayah pegunungan seperti Boja, Patean, Pageruyung dan Sukorejo.

Dari sisi sosiologis kaum penyandang buta aksara akan mengalami keterkucilan diri pada ranah sosial (split personality). Sebenarnya secara filosofis penyandang buta aksara memiliki kemampuan dan potensi yang sama dengan mereka yang tidak menyandang buta aksara. Hal ini dilandasai dengan banyaknya masyarakat kendal yang bekerja diluar negeri atau menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dan mereka lebih suka dengan berwirausaha sendiri.

Oleh karena itu Program KKN Tematik PBA tingkat lanjut dapat memberikan yang terbaik dalam penuntasan buta aksara dan program keterampilan untuk peningkatan nilai ekonomi. Bukan sekedar program yang kemudian selesai sudah pokok permasalahan.

Untuk mensukseskan pemberantasan buta aksara di Kendal dan kota-kota lainnya diperlukan sebuah alternatif dan dukungan dari semua pihak. Pemberantasan buta aksara juga merupakan tujuan dari program Millenium Development Goals (MDG’s), disini peran pemerintah sangat vital. Maka diperlukan sarana dan prasarana sebagai bekal untuk penunjang bagi kaum buta aksara, hal ini sebagai salah satu memperbaiki mutu pendidikan. 

Rumah Pintar
Keadaan dan kondisi banyaknya penyandang buta aksara, memang perlu kerja keras dalam pemberantasannya. Tapi upaya rekonstruksi tetap harus berjalan sebagai target tahun 2009 kaum buta aksara dapat dituntaskan. Menurut Frijof Capra masyarakat sekarang ini telah mengalami ”penyakit-penyakit peradaban” hal ini dapat dilihat dari maraknya perceraian, stress, depresi dan kejahatan. Kesemua hal tersebut berawal dari keterbelakangan dan ketidakmampuan menjalani kehidupan ini dengan nilai-nilai pendidikan.
Maka diperlukan alternatif baru yaitu dengan prosesi kerja sama antara masyarakat, pemerintah dan mahasiswa untuk bisa memberikan yang terbaik. Salah satunya dengan memberikan rumah pintar di setiap desa. 

Melalui rumah pintar mereka akan termotivasi untuk selalu datang dan memeberikan ruang gerak supaya terjalain komunikasi disatu tempat yaitu rumah pintar. Bahkan anak-anakpun akan tertarik dengan fasilitas di rumah pintar seperti buku, alat bermain dan media pembelajaran. Tentu tidak hanya buku-buku (perpustakaan) yang tersedia, akan tetapi memberikan pegawai ditempat rumah pintar untuk menjadi tutor. Maka peran pemerintah disini sangat diharapkan sekali dalam menyukseskan rumah pintar untuk penyandang buta aksara. 

Jadi tidak hanya penerjunan para guru (tutor) untuk memberikan pembelajaran dan keterampilan. Dengan hadirnya rumah pintar aneka kegiatan dapat berlangsung sebagai mana mestinya seperti ruang belajar, sumber bacaan, dan pembelajaran keterampilan. Melalui rumah pintar semua kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan, yang merupakan ruang terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar. Masyarakat bisa secara langsung memantau, menyaksikan dan memberikan pelayanan sesuai dengan kemampuan di rumah pintar.

Selain memberikan rumah pintar bagi penyandang buta aksara, pemerintah dan masyarakat juga perlu memikirkan ruang baru bagi masyarakat yang bisa dijadikan pusat pembelajaran. Sehingga kegiatan belajar mengajar di rumah pintar dapat berfungsi optimal. Melalui rumah pintar diharapkan masyarakat menyadari akan pentingnya pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Warga masyarakat baik di Kendal maupun masyarakat di kota lainnya sangat merindukan hadirnya rumah pintar sebagai ruang publik upaya untuk penuntasan buta aksara selain sebagai kegiatan pembelajaran keterampilan.

Jadi sangat ironi pemberantasan buta aksara dengan hanya menerjunkan KKN Tematik PBA maupun para tutor Keaksaraan Fungsional (KF), setelah diberikan pembelajaran mereka akan lupa. Tak pelak rumah pintar sangat dirindukan bagi penyandang buta aksara setelah mereka di tingal para tutornya.

Tragisnya, dunia yang serba dipenuhi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih menyajikan PR yang "wajib" disantap kaum pendidik dan pemerintah akibat banyaknya penyandang buta aksara. Maka dari itu rumah pintar menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

HMI Semarang Utamakan Qurban di Daerah Minus

Jumat, 31 Agustus 2012

Terbit di Media Online HMINEWS.COM

Rumah Pendidikan Sciena Madani (RPSM), sebuah komunitas yang didirikan oleh pasca struktur HMI Cabang Semarang saudara Lukni Maulana. Mengadakan acara penyembelihan kurban, yang didapatkan dari donator berupa dua kambing dan beberapa bungkus daging yang dibagikan ke masyarakat.

RPSM mengadakan acara penyembelihan di daerah Banjardowo Rt 2 Rw VI Genuk Semarang. Berbeda dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya, diwilayah ini memiliki tradisi yang berbeda dengan daerah lainnya yakni sebelum acara penyembelihan diadakan slametan gemblong yakni acara syukuran dengan berbagai keragaman makanan khas tradisonal jawa. Selanjutnya berdoa, selain sebagai sebuah kewajiban umat Islam. Di daerah ini masih melestarikan nilai-nilai budaya Jawa
.
Tujuan RPSM mengadakan acara penyembelihan kurban ini, dilatarbelakangi daerah ini hampir tujuh tahun tidak pernah ada penyembelihan kurban. Padahal acara kurban memiliki nilai yang positif, masyarakat tidak berharap banyak tentang seberapa dagingnya, tapi nilai lain dari acara penyembelihan. Yakni tradisi slametan gemblong dan tentunya masyarakat dapat berkumpul, terjalain  rasa kekeluargaan dan tentunya kesadaran akan makna berkurban

Menelisik Taman Baca idi Perkampungan

Terbit di Media Online HMINEWS.COM

Demi mewujudkan tatanan yang lebih baik dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, baru-baru ini Rumah Pendidikan Sciena Madani (RPSM) yang di pimpin Lukni Maulana berserta beberapa orang dan tidak ketinggalan Agus Thohir pengurus besar HMI yang saat ini menjabat Sekretaris Jenderal ikut mengunjungi Taman Baca Masyarakat (TBM) Praja Muda yang beralamatkan di Desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara.

Disambut oleh Saiful Mustakim selaku pengelola TBM Praja Muda dan selama disitu membahas berbagai persoalan tentang dunia pembelajaran di sekolahan. Paling menarik dalam dialog tersebut ialah pembahasan mengenai Fun Learning yakni pembelajaran yang menyenangkan untuk para siswa di sekolah. Dimana sekolah menjadi tempat yang menakutkan jika hanya menerapkan model pembelajaran yang kaku dan monoton, namun bagaimana sekolah mampu menerapkan berbagai metode yang mendukung guna mencapai tujuan dan membuat anak didik merasa nyaman didalamnya.
Agus Thohir mengatakan, dengan adanya Taman Baca Masyarakat dapat memberikan pembekalan baru pada masyarakat yang haus dengan ilmu. Tentu diimbangi dengan berbagai macam program kegiatan, terutama bekal ketrampilan yang saat ini sangat di butuhkan.

Ada beberapa alasan berkunjung ke TBM Praja Muda, terkait program pemerintah dalam mengentaskan buta huruf dan kegiatan belajar untuk masyarakat selain program rumah pintar dan pos paud. Alasan utamanya yakni TBM Praja Muda merupakan TBM salah satu yang terbaik di Jawa Tengah. Di sana walau tampak sederhana namun program kegiatanya berjalan lancar dan terorganisir seperti; sedekah buku, Teater dan musikalisasi puisi, pemutaran film indie, gelar budaya, keterampilan dan kejurnalistikan.

Seiring perkembangan arus globalisasi yang tajam dalam dunia pendidikan, masyarakat harus semakin menyadari bahwa belajar tidak hanya di bangku sekolah. Akan tetapi bisa dimanapun tempatnya. Diharapkan disetiap RT ada Taman Baca Masyarakat yang dikelola oleh masyarakat dan tentunya dikembalikan ke masyarakat. Sehingga kelak generasi anak bangsa semakin matang dan memiliki nilai-nilai budi pekerti yang luhur, karena dengan baiknya pendidi

Garakan Intelektual HMI Masih Layak

Terbit di Media Online HMINEWS.COM
Menjadi lebih baik itulah harapan semua orang, begitu juga dengan gerakan kemahasiswaan terutama gerakan Himpunan Mahasiswa Islam. Tepat malam jum’at kemarin Lembaga Pers Mahasiswa Islam Cabang Semarang bersama Rumah Pendidikan Sciena Madani dan WB Community mengelar Performance Puisi dan Bedah buku (HMI; Pemikiran dan Gerakan Intelektual). 

Acara tersebut menyuguhkan sebuah tema, “Menutup Tahun; Untuk Indonesia Lebih Baik”. Di pandu oleh Direktur Lapmi Cabang Semarang Ahmad Subkhi acara ini dibuka dengan Perfomance Puisi dari perwakilan komunitas termsuk salah satunya dari Komunitas Pawon saudara Kukuh. Dilanjutkan dengan bedah buku menghadirkan dua pembicara dari penulis buku tersebut yakni Ahmad Sahid dan Darwin yang dipanelkan Ketua Umum HMI Cabang Semarang Musthofa Ad-Dakhil. Setelah itu ada sebuah perolog dari etnis Cina yakni Koh Chwan, yang berpesan kepada gerakan HMI untuk menjaga etika moral sebab hampir lima puluh persen elit pemerintah di isi oleh alumni HMI.

Di pandu oleh Moderator Lukni Maulana selaku Direktur Rumah Pendidikan Sciena Madani. Bahwa acara ini berlangsung guna ingin membedah gerakan yang pantas untuk tahun yang akan dating.

Menurut Sahide, bahwa gerakan intelektual masihlah relevan yang dibumbui dengan basis-basis keilmuan para kader. Sebab kader yang memiliki basis keilmuan itulah yang akan menjadi pemimpin mendatang. Begitu juga dalam pandangan Musthofa, bahwa selain basis keilmuan, penekanan pada kader suapaya memiliki integritas dalam menjaga culture HMI yang semakin tergerus arus modernisasi.

Acara tersebut dihadiri dari berbagai kalangan, hampir dipenuhi oleh manusia-manusia yang haus akan ilmu dan pola pandagan HMI. Di akhir acara ditutup dengan perfiomance puisi dan pembagian door prize oleh panitia

Mentradisikan Filsafat

Selasa, 28 Agustus 2012

Dimuat di media online HMINEWS.COM

Tradisi berfikir filosofis sebenarnya ada dan dimiliki bangsa manapun, bahkan oleh mereka yang tidak mengenal apa itu filsafat. Karena ketika seseorang sudah mulai berfikir kritis tentang persoalan kehidupan, itu artinya seseorang tersebut mempraktekkan filsafat.

Banyak memang yang belum mengenal filsafat dengan beragam pembagiannya, termasuk kalangan mahasiswa. Untuk itu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang menyelenggarakan diskusi sehari tentang filsafat dengan tema “Mewujudkan Gerakan Epistemik Melalui Penguatan Tradisi Berfilsafat,” (Ahad, 29/01/2012).

Hadir sebagai pemandu diskusi dalam acara yang diselenggarakan di sekretariat HMI Cabang Semarang tersebut antara lain Sindi Setiadi, Supardi, Lukni Maulana dan Arif Pramudya. Masing-masing membawakan Pengantar Filsafat, Metafisika, Epistemolodi serta Filsafat Etika.

“Banyak orang sangat meremehkan ilmu filsafat, hal ini dikarenakan belajar filsafat sangat mengganggu pemikiran. Ditandai dengan menanyakan hal-hal yang sudah mapan, semisal pembahasan shalat, itu sudah menjadi kewajiban umat Islam. Namun mengapa dengan kewajiban tersebut selalu dipertanyakan. Di sini diskusi bukan untuk menjadikan akidah semakin luntur, akan tetapi justru untuk memantapkannya,” kata Tian Purwoyuwono selaku Ketua Bidang Wacana HMI Cabang Semarang.

Dengan diskusi yang berlangsung pagi hingga malam hari tersebut diharapkan kader-kader makin memahami metode berfikir kritis dan  sistematis, serta mampu menjadi pemikir yang luar biasa

Ramadhan, Tingkatkan Wawasan Keagamaan Anak

Rabu, 15 Agustus 2012

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online)

Ramadhan tidak sekedar bulan penuh ibadah ritual. Bulan suci ini dapat dijadikan kesempatan untuk menempa kemampuan dasar dalam beragama, terutama bagi anak-anak Muslim.

Karena itu panitia Masjid Jami Al-Falah Genuk mengelar dua perlombaan yakni untuk kategori umum lomba Bilal atau Muadzin. Sedangkan Wawasan Islam untuk tingkatan Sekolah Dasar hingga tingkat umum.

Kegiatan yang berlangsung Ahad (12/8) kemarin di Aula Mahad Aly merupakan acara rutin yang diadakan setiap tahunnya. Menurut ketua panitia Sholeh yang juga guru MTS Darul Hasanah Genuk, acara ini terselenggara berkat kerja sama antar pihak dan berharap memberikan wadah kepada masyarakat untuk meberikan pengajaran kepada anaknya di masjid.

Hal senada juga dikatakan ketua tamir Masjid Jami Al-Falah Genuk Ali Khoiron, ujian ini sebagai bekal untuk menjadi lebih baik. Begitu juga wadah pengajaran, merupakan program masjid yang tahun ini sudah memiliki Mahad Aly’ dan dihuni oleh para santri yang ingin belajar ilmu agama.

Lomba tingkat kota Semarang ini diikuti sekitar lebih dari 400 orang yang memadati aula hingga dalam masjid berlantai 2 ini. Salah satu delegasi peserta dari Rumah Pendidikan Sciena Madani yang di asuh Lukni Maulana, mendelegasikan 7 peserta.

Ini merupakan pertama kali mereka mengikuti event perlombaan. Ia berharap supaya mereka memiliki mentalitas terlebih dahulu, soal menang kalah bukan menjadi prioritas, tuturnya.

Bentengi Diri, Lestarikan Tradisi NU


Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online)

Seiring perkembangan zaman, banyak aliran sempalan yang berusaha menggerogoti ajaran Islam. Karena itu warga Nahdiyin harus terus membentengi diri dengan melestarikan tradisi Nahdlatul Ulama (NU) yang berdasar pada ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah.

Hal itu dikatakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah Mangkang Semarang, KH Hadlor Ihsan dalam peringatan Nuzulul Qur’an akhir pekan kemarin yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Genuk, Kota Semarang di Masjid Al-Mubarakah Kudu Rt 2/IV Genuk Semarang.Kegiatan ini mengambil tema, Bangkitnya Semangat Juang Ramadhan Menuju Berkwalitasnya di Hari kemenangan. 

Ketua PAC GP Ansor, Muhammad Sodri mengatakan, bahwa Ansor sangat berperan aktif dalam melestarikan tradisi NU, maka mengutamakan program prioritas, penguatan ideologi atau akidah, Kajian Rijalul Ansor, Jamaah Maulidul Rasul, Kepedulian Sosial, Penerbitan dan Kwirausahaan.Memang saat ini anak muda sangat acuh terhadap akidah ahlussunah wal jamaah, disebabkan pergeseran masyarakat yang bersifat praktis. Senada dengan Abdullah Jamil, selaku wakil pimpinan cabang GP Ansor, ia mengatakan, saatnya warga Nahdiyin terjun ke elemen-elemen gerakan yang berbasis Nahdiyin. Jangan sampai terjebak politik praktis.Sementara itu KH Hadlor Ihsan mengingatkan warga untuk selalu nguri-nguri tradisi yang dari dulu sudah dijalankan.

Ansor Genuk Semarang Berikan Beasiswa Pesantren

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online)

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Genuk, Kota Semarang, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Ad-Dzaroin Sayung Demak yang diasuh oleh KH Abu Bakar memberikan beasiswa pendidikan dan pemondokan gratis untuk warga Nahdzin di lingkup wilayah Genuk Semarang.

Pemondokan gratis akan di tempat di pondok Ad-Dzaroin Sayung Demak, yakni memberikan fasilitas gratis kepada santri untuk belajar menuntut ilmu terutama kajian kitab kuning yang selama ini diajarkan turun-temurun.

Sedangkan beasiswa pendidikan diberikan khusus untuk anak yang telah lulus sekolah dasar atau siapa saja yang berkeinginan mendapatkan beasiswa tersebut meskipun dia putus sekolah tapi memiliki niat untuk belajar.

Jalinan kerjasama yang bertempat di daerah Kudu RT 2 RW 6 Genuk Semarang ini, selain pemberian beasiswa juga pemberian santunan kepada 200 anak yatim dan dhuafa. Mereka mendapatkan berbagai macam kebutuhan terutama kebutuhan pokok, yang harganya menjelang Ramadhan selalu melambung. Ahad (12/8) kemarin.

Muhammad Sodri mengatakan, pemberian santunan kepada anak yatim dan dhuafa merupakan program rutin setiap tahunnya di bulan Ramadhan. Sebab bulan ramadhan merupakan bulan berbagi, sedangkan junjungan kita Nabi Muhammad suka bergaul dengan orang miskin.

Diiringi rebana Jamatil Dziba Rijalul Ansor, acara semakin meriah. Lantunan syair-syair sekan mensayat hati dan pikiran untuk saling berbagi. Sebelumnya diadakan khataman Al-Qur’an oleh Jamaah Quro Wal Hufadz GP Ansor Genuk.

Kerja sama tersebut tidak hanya Ansor dengan Pondok Pesantren, akan tetapi juga menjalin kerja sama dengan pihak kepolisian polsek Genuk. Dihadiri perwakilan Kapolsek Genuk, Suyudi yang menjabat Perwira Unit Bimas 1 ini menyampaikan ucapan banyak terima kasih kepada Ansor dan mengajak Ansor untuk saling mengkoordinasi untuk ketertiban dan keamanan di wilayag Genuk.

Rihlah Ilmiah Ramadhan ke Masjid Agung Jateng

Jumat, 10 Agustus 2012

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online) 

Lebih dari lima puluh peserta mengikuti kegiatan program rihlah ilmiah dalam rangkain kegitan pesantren ramadhan diadakan oleh Rumah Pendidikan Sciena Madani yang bekerja sama dengan Masjid Ar-Rasyid yang terletak di daerah Banjardowo Rt 2 Rw 6 Genuk Semarang.

Rihlah ilmiah merupakan program semacam pariwisata, namun bukan sekedar wisata akan tetapi memiliki nilai-nilai pendidikan. Berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah dengan mengendarai kereta kelinci yang telah dipesan panitia ini bersifat gratis dan bahkan setiap peserta mendapatkan jatah tiket untuk menaiki menara masjid.

Di lantai 19 menara masjid agung jawa tengah, para peserta dikenalkan tentang pemandangan alam khususnya kawasan Semarang. Berlanjut di lantai 2 dan 3 para peserta dibekali dengan pengetahuan tentang sejarah. Sebab di lantai tersebut menjadi museum pusat sejarah Jawa Tengah.

Dalam acara tersebut, para peserta di kawal oleh 2 porsenil Banser Ranting Banjardowo yakni saudara Suyatno dan Rohmani. Menurut Suyatno, bahwa tugas banser bukan sekedar memberikan rasa aman, namun bagaimana juga berperan aktif dalam kegiatan pendidikan.

Rihlah ilmiah ini sebagai bentuk pembelajaran lingkungan kepada anak-anak, kata penanggung jawab acara Ninik Ambarwati. “Saya juga sangat berterima kasih kepada Banser yang meluangkan waktunya untuk memberikan rasa aman dan membimbing anak-anak,” tuturnya

Berkreasi dengan Kain Flanel

Ada berbagai cara untuk memuliakan bulan Ramadhan yakni dengan berbagai aktifitas yang mendukung dan menambah keilmuan. Salah satunya membekali diri dengan ketrampilan.

Panitia Pesantren Ramadhan Masjid Ar-Rasyid Banjardowo, memberikan pembekalan ketrampilan seni dari kain flanel untuk mereka yang mengikuti pesantren Ramadhan.

Para santri dibagi dalam dua kategori yakni anak usia dini sampai kelas tiga sekolah, diberikan ketrampilan kolase dari kain flanel, yakni suatu ketrampilan gambar dengan pernak-perniknya tempelan dari kain flanel.

Sedangkan untuk kelompok yang sudah dewasa diberikan ketrampilan flanel untuk membuat bros, gantungan HP dan Gantungan Kunci. Pemberian ketrampilan tersebut diberikan gratis dan cuma-cuma bahkan ada yang mendapatkan hadiah bagi yang memiliki nilai lebih.

Di depan halaman Masjid Ar-Rasyid, tampak anak-anak sangat antusias mengikuti pelatihan pembuatan ketrampilan dari kain flanel. Bagi mereka ini diikuti sebagai wujud rasa syukur akan datangnya bulan mulia dan tentunya mengisi waktu dalam menunggu datangnya waktu berbuka.

Polisi dan Ansor Bersama Bagi Takjil Gratis

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online) dan www.gp-ansor.org

Sekitar sepuluh personil ikut serta dalam rombongan PAC GP Ansor Genuk dan Banser yang menurunkan tiga puluh enam personil untuk membagikan takjil gratis kepada pengguna jalan di sekitar lampu merah genuk atau tepatnya di perbatasan kota Semarang dengan Demak.

Pembagian tajil ini merupakan rangkaian kegiatan Amalan Ramadhan yang diadakan oleh Ansor Genuk. Sebagai wujud rasa syukur atas nikmat bisa kembali memeriahkan bulan suci Ramadhan.

Tajil dikumpulkan dari masyarakat, sekitar enam ribu minuman baik kolak, kacang ijo maupun es. Itu pun belum jumlah makanan ringan seperti roti dan bungkusan makanan ringan.

Menurut M Sodri selaku ketua Ansor, pembagian takjil ini hanya rangkaian kecil memerihakan bulan suci ramadhan, masih banyak program yang harus segera dilaksanakan seperti santunan kepada anak yatim dan pengajian.

Lain lagi apa yang dikatakan Doni Setyawan selaku Kapolsek Genuk yang ikut partisipasi dalam pembagian tajil, mari kita ciptakan masyarakat yang berbudi yakni saling berbagi dan memberi.

Anak Belajar Ketrampilan dan Sedekah Alat Tulis

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online)

Sekitar tiga puluh enam peserta mendaftar kegiatan Pesantren Ramadhan, diadakan oleh Masjid “Iktikaf” Ar-Rasyid Banjardowo Genuk yang bekerja sama dengan Rumah Pendidikan Sciena Madani. Bertempat di serambi Majid anak-anak sangat antusias dalam mengikuti jalannya kegiatan.

Mengambil tema, menjadi generasi kratif dan mandiri, kegiatan ini diadakan juga bertepatan dengan hari anak nasional. Dipandu oleh Ninik Ambarwati yang juga guru KB-RA “Masjid” Al-Azhar Permata Puri, memberikan bimbingan ketrampilan membuat disgrip dengan teknik melipat.

Peserta yang rata-tata anak usia taman kanak-kanak dan tingkat sekolah dasar. Pembekalan pembuatan ketrampilan disajikan dengan santai dan menyenangkan melalui teknik bermain yakni brain game dan ice breaking. Sehingga selama kegiatan belajar peserta tidak mengalami kebosanan.

Program ketrampilan ini masih tetap berlanjut, salah satu program ketrampilan yang diadakan di pesantren ramadhan ini adalah membuat aneka kerajinan dari kain flannel. Bertujuan untuk memotivasi anak-anak supaya memiliki kreatifitas khusunya dibidang ketrampilan.

Setelah pembuatan disgrip selesai para peserta mendapatkan alat tulis dan sedekah buku gratis. Sehinga mereka tampak senang dan bahkan saling berebut. Melaui program ketrampilan dan sedekah buku diharapkan anak-anak memiliki semangat dan rajin belajar.

Wakaf Pembangunan TPQ NU

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online)

Masyarakat terlihat sangat antusias, dengan pakaian sederhana mereka datang bersamaan. Namun, wajah mereka tampak berseri-seri dan mulai merajut harapan yang selama ini menjadi cita-cita warga NU di daerah desa Krojo Sembungharjo RT 7 RW 6 Semarang.

Hal tersebut terlihat semangat warga dan kader-kader NU berkerja sama dalam kerja bakti peletakan batu pertama pembangunan gedung TPQ NU Al-Hikmah (13/05). Pembangunan dan peletakan batu pertama yang bertajuk Generasi Cemerlang dan Generasi Qurani.

Pembangunan TPQ NU Al Hikmah ini sebagai bentuk aspresiasi masyarakat yang berkeinginan mewujudkan generasi qurani yakni agar kelak anak-anak mereka mencintai Quran. Sesuai apa yang dikatakan Sugiyono selaku pewakaf tanah yang sekaligus menjadi ketua komite. Dalam pembangunan TPQ  direncanakan pembangunan menyediakan delapan ruang dengan menepati tanah bangunan seluas 8 x 32 m.

Peletakan batu pertama ini dihadiri dari berbagai kalangan terutama dari pihak komite, ketua RW dan RT setempat. Begitu juga kalangan pemuda dari Pimpinan Anak Cabang IPNU Kecamatan Genuk. Sebelum acara utama dimulai digelar berbagai macam tradisi, diantaranya pembacaan istigotsah.

Dilanjutkan dengan peletakan batu pertama oleh H Ali Mas’adi. “Pembangunan ini semoga dapat berlangsung sesuai harapan. Semoga lancar dan sukses dalam pembangunan TPQ NU Al-Hikmah. Dalam waktu satu tahun membuka TPQ sudah mendapatkan wakaf tanah yang begitu luas, ini adalah karenia Allh,” tuturnya.

Iuran, Ansor Bangun Satu Ranting Tiga Jamban

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online)

Pemerintah Kota Semarang berencana akan memberikan fasilitas gratis berupa jamban kepada masyarakat dengan mengandeng kerja sama dengan Australia. Namun itu masih direncanakan, berbeda dengan PAC GP Ansor Genuk Semarang bersama Banser Genuk sudah merealisasikan program jamban untuk masyarakat.

Ranting Banjardowo menjadi tuan rumah untuk acara maulud dan pembahasan program ke depan. Bertempat di mushala Nurul Hidayah, bacaan Barzanji yang dibacakan oleh Rifai mengumandang merdu menghiasi nuansa malam yang diiringi oleh group rebana GP Ansor Genuk. Dilanjutkan dengan pembacaan surat yasin dan tahlil (21/02).

Selanjutnya progam jamban dan pertemuan selapanan ini membahas kegiatan untuk saling berbagi dalam bakti sosial kepada masyarakat. Dimana kegiatan tersebut sudah berlangsung pembuatan jamban gratis disetiap ranting. GP Ansor Genuk sudah memfasilitasi masyarakat dengan pemberian jamban gratis di kawasan ranting Banjardowo dan ranting Sembungharjo.

Target yang akan direalisasikan sesuai program yakni pembangunan jamban beserta rumahnya sejumlah 12 jamban. Minggu depan akan membangun jamban untuk kawasan ranting Karangroto. Namun masih banyak ditemui kendala saat pembangunan dua ranting sebelumnya. Kendala tersebut seperti kurangnya persiapan bahan bangunan. Hal ini dikarenakan, program gratis tersebut dananya murni dari iuran anggota jamaah GP Ansor Genuk dan Banser.

“Menjadi pemuda harus mampu mandiri dan mampu mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Walaupun itu berat karena harus mengurus rumah tangga sendiri, namun sebagai kader Ansor harus siap untuk berkorban”, tutur M. Sodri Ketua PAC GP Ansor Genuk Semarang.

Begitu juga tidak menutup kemungkinan untuk menerima bantuan dari masyarakat setempat dan bagi para donator untuk menyisikan sebagian penghasilannya untuk kegiatan bersama memajukan kualitas masyarakat.

Menularkan Virus Kewirausahaan pada Kader Ansor

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online)dan Harian Semarang

Kewirausahaan merupakan virus yang harus disebarkan, hal ini untuk menjadikan seseorang menjadi mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. GP Ansor Genuk Semarang menyadari akan hal itu, begitu juga dengan organisasi sebuah institusi yang seharusnya mampu mensejahterakan anggotanya.

Virus inilah yang disebarkan GP Ansor Genuk Semarang, dari pagi hingga sore hari diadakannya seminar kewirausahaan dengan mengakat tema, “Membangkitkan Jiwa Kewirausahaan Dikalangan Pemuda”.

Ketua panitia Muslimin mengatakan, “Dikalangan pemuda pelatihan kewirausahaan menjadi suatu kepastian oleh sebab sekarang ini Negara mengalami krisis ketenagakerjaan. Banyak penganguran di Negara ini. Maka seorang pemuda harus mampu menciptakan ide kreatifnya untuk menjadi orang yang berdikari”.
Menghadirkan dua pembicara nasional yakni Ir H Sunarto, MA dan H Abdullah Richmoslem, PhD.

“Dalam ajaran Islam sendiri tidak diajarkan untuk menjadi orang miskin namun menjadi orang yang dermawan. Orang dermawan adalah mereka yang memiliki kekayaan, dalam hal inilah maka seorang pemuda harus bisa menjadi kaya sebab dengan menjadi kaya tentu bisa bersedekah,” kata Sunarto pengusaha property Semarang ini yang rela keluar dari pekerjaan menjadi pegawai negeri sipil untuk menjadi orang yang kaya.
Lain lagi dengan Abdullah ia menuturkan tentang pengalamannya bagaimana menjadi seorang yang sukses. Lulusan Pondok Futuhiyah ini mulai karirnya di pesantren hingga ia mendapatkan honorer dari kesukaannya menulis.

Dari hobbynya tersebut menjadikan ia semakin optimis hingga sekarang ini memiliki berbagai macam usaha dalam naungan bendera Ihwah Coorporation.

Orang Nahdiyin seharusnya menjadi orang sukses semua, sebab hampir semua orang nahdiyin jebolan dari pesantren dan ilmu tersebut didapatkan namun belum diamalkan. Maka saatnya pemuda memiliki mentalitas untuk berani kaya, kara Abdullah.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mahasciena
Copyright © 2011. Mahasciena - Lukni Maulana - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Lukni Maulana
Present by Rumah Pendidikan Sciena Madani