Diberdayakan oleh Blogger.

Penghinaan

Senin, 08 Oktober 2012


Suatu ketika Ahmad mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari pacarnya. Sehingga ia mendapatkan penghinaan dan bahkan ia mendapatkan caci makian yang begitu mensakiti hati. Perasaan ahmad semakin teriris-iris, bahkan bagai di tusuk pedang tepat mengenai jantungnya. Sehingga sepertinya sebentar lagi ajal akan menjemput.

Semuanya semakin terlihat ketika Ahmad dianggap orang yang memiliki tingkat intelektual rendah dan bahkan segala hal ia selalu di rendahkan dan di cela.

Ia ceritakan kejadian itu kepada Pak Muh. Bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan dan bahkan ia seperti di permainkan oleh kehidupan.

“Setan itu merendahkan manusia.” Kata Pak Muh

“Apa maksud kata-kata itu?”

“Sejak pertama manusia ada, ia sudah mendapatkan penghinaan,” jawab Pak Muh.

Sungguh manusia terlahir dari kehinaan, ia tercipta dari tanah dibandingkan dengan mahkluk laia. Namun sesungguhnya tanah adalah puncak tertinggi dari hakikat semesta. Karena semua akan kembali menjadi tanah.

Pak Muh memberikan doa yang selalu di ucapkan Rasulullah; “Sesungguhnya Saya tidak lain adalah manusia, maka janganlah Engkau siksa Saya, dan siapapun dari orang mukmin yang Saya sakiti atau aku caci maki, maka janganlah Engkau menyiksa Saya karenanya." (HR. Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. AL-Hujuraat: 11)

Semarang, 18/09/12

Banser Kawal Jamaah Haji NU


Terbit di NU Online www.nu.or.id
Ratusan para pengiring jamaah haji membanjiri masjid Baitul Mutaqin Genuk, yang ingin megiring para jamaah haji menuju Masjid Agung Jawa Tengah, Sabtu (6/10). Jamaah haji dari jamaah nahdliyyin di wilayah Genuk ini mencapai empat puluh delapan orang. Acara di gelar dengan sangat sederhana, yang bermaksud untuk lebih dekat kepada calon tamu Allah.

Pelepasan kepada jamaah haji merupakan tradisi masyarakat untuk memohon doa keselamatan. Semoga para pengiring juga bisa dan mampu menunaikan ibadah haji sebagai tamu Allah. Di harapkan kepada jamaah untuk sementara sedikit melepas masalah duniawi dan urusan keluarga. Untuk fokus dalam ibadah dan ritual-ritual wajib ibadah haj.

Kumandang talbiyah, menandakan tradisi tersebut berakhir, para Banserpun disibukan dengan mengawal para jamaah dan tentunya para pengiring yang membawa mobil, angkutan maupun kendaraan pribadi. Sehingga membuat jalan raya penuh sesak, namun kemacetan tersebut dapat diatasi oleh sigapnya para Banser.

“Semoga para jamaah haji mampu menjalankan ibadah dengan khusuk dan pulang dengan selamat,” kata Suyatno anggota Banser dari Ranting Banjardowo.

Amalan dan Jimat

Sabtu, 06 Oktober 2012

Waktu sudah menunjukan untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Pak Muh segera masuk ruang kuliah. Dilihatnya para mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan, ia hanya bisa tersenyum dan berharap kelak mahasiswa yang ia ajar menjadi orang yang ilmunya bermanfaat hingga mengantarkannya menjadi orang sukses.

Selang beberapa waktu, ada salah satu mahasiswa mempertanyakan tentang hukum menggunakan amalan, hizb ataupun jimat. Pak Muh sadar betul bahwa mahasiswa tersebut berkeinginan untuk memperdalam diluar kebanyakan orang modern.

Jika masyarakat Jawa, ketika memiliki anak kecil yang belum cukup umur, orang dahulu selalu memakaikan kalung yang berisikan tulisan-tulisan Al-Qur’an. Mereka meyakini dengan memakai jimat tersebut, si anak akan terhindar dari bahaya dan malapetaka. Begitu juga dengan rumah-rumah yang terkadang kita melihat tulisan-tulisan arab menempel di atas pintu masuk rumah. Hal ini juga di yakini untuk mengusir bentuk-bentuk kejahatan dan terlindung dari malapetaka.

Apakah di era modern ini masih mempercayai hal itu, bisa jadi hal itu dianggap tidak rasionalis. Sebab era modern cenderung berparadigma positivistik yang berpandangan segala sesuatu harus rasionalis dan empiris. Ataukan hal tersebut di anggap bidah, segala amalan yang tidak ada pada zaman rasul.

“Alam semesta memiliki energi dan energi menghasilakan kekuatan,” jawab Pak Muh.

Mahasiswa merasa senang mendapatkan jawaban singkat tersebut. Karena ia mendapatkan restu untuk mengamalkan apa yang ia kehendaki dan memakai jimat supaya mendapatkan keberkahan hidup.

Amalan doa, zikir, hizib maupun memakai jimat merupakan bentuk usaha ikhtiar seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa yang bertujuan untuk mendapatkan ketenangan, perlindungan maupun terhindar dari marabahaya.

Tentu bentuk amalan dan jimat itu tidak mengandung unsur kesyirikan; “Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad).

Alam itu memiliki energi, baik itu air, matahari maupun udara yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan kekuatan. Begitu juga dengan amalan yang datang dari pencipta alam semesta berupa wahyu yang diturunkan kepada Rasul Muhammad yakni Al-Qur’an.

“Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ''Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR. Muslim)

Semarang, 03/10/12

Celana di Bawah Lutut

Senin, 01 Oktober 2012

Ahmad seorang pemuda kampung yang kini tinggal di kota, sudah hampir satu minggu ia menetap di rumah saudaranya. Karena bosan di rumah terus, Ahmad memutuskan untuk keluar jalan-jalan sendiri. Siapa tau bisa menghilangkan rasa penat, katanya.

Ia sangat menikmati kesendiriannya, selang berapa waktu ia tengok jam tangganya. Waktu sudah sore, ia baru ingat bahwa dirinya belum menunaikan shalat ashar. Ia putuskan untuk mencari masjid terdekat.
Selesai shalat ashar, ia melihat sisi kanan masjid yang dipenuhi para jamaah. Oh..ternyata ada kajian tematik. Ahmadpun tertarik untuk mengikutinya. Di lihatnya banyak dari para jamaah yang memakai pakaian di bawah lutut.

Selesai mengikuti kajian, Ahmad penasaran tentang mengapa para jamaah memakai pakaian celana di bawah lutut. Iapun menelepon Pak Muh, menanyakan perihal tersebut.

“Sarung (celana) yang di bawah mata kaki akan ditempatkan di neraka”. (HR. Bukhari). Ahmad merasa ketakutan.

Sunnah memakai pakaian tidak melebihi kedua mata kaki. Haram jika mengenakan pakaian sampai di bawah mata kaki jika dimaksudkan lil khulayah atau karena faktor kesombongan.

“Allah tidak melihat orang yang merendahkan pakaiannya dengan penuh kesombongan”. (HR. Bukhari)
Kain celana atau sarung di atas mata kaki dimaksudkan supaya terbebas dari kotoran atau najis. Ahmadpun di persilahkan memakai pakaian sebatas mata kaki, asalkan mampu menjaga celana dari kotoran dan najis.

“Oh..gitu, alhamdulillah. Lha saya kan ketika shalat memakai pakaian khusus shalat.” Kata Ahmad.

Pakaian merupakan produk budaya dan kita diajarkan untuk tahzin atau etika dalam berpenampilan yang sesuai dengan adat lingkungan dan pastinya menghindari tata cara yang dilarang. Sesuai dengan ketentuan yakni untuk laki-laki harus menutup bagian tubuh dari mulai pusar hingga sampai ke lutut.

Semarang, 22/09/12

Tulisan Niatmu Menyesatkan

"Tiada seorang Nabipun yang diutus oleh Allah dan tidak pula Allah mengangkat seorang khalifah, melainkan Nabi atau khalifah itu mempunyai dua golongan yang bertentangan. Golongan yang satu menyuruhnya untuk mengerjakan kebaikan dan mengajaknya melaksanakan sedemikian itu sedang golongan yang satunya lagi menyuruhnya mengerjakan kejahatan dan mengajaknya melaksanakan sedemikian itu. Orang yang terjaga ialah yang dipelihara niat, ucapan dan perbuatannya oleh Allah." (HR. Bukhari)

Anda diajarkan untuk menanamkan “niat” dalam bentuk perbuatan apapun. Karena segala sesuatu tergantung niatnya. Kata niat menjadi salah satu kunci jalan diterimi atau tidaknya suatu perbuatan. Seperti shalat; ketika ia tidak mengucapkan niat, maka shalatnyapun tidak sah. Ketiga anda berniat bekerja mencari penghasilan, Allah akan membukakan jalan rizeki.

Jadi anda yang ingin menjadi seorang penulis, setidaknya dituntut untuk memiliki rasa niat dan diiringi rasa ikhlas. Dengan rasa niat dan ikhlas dapat memiliki pengaruh yang sangat besar dalam meningkatkan semangat. Jika anda tidak ikhlas dan niatnya sempit, niscaya jalan yang ditempuh semakin sulit.

Tiga (3) pesan dalam hadist diatas adalah niat, ucapan, dan perbuatan. Ketiganya mengisyaratkan hubungan yang saling ketergantung dan mengikat. Ketika sudah niat untuk menulis, maka ucapan anda harus di lakukan atau bertanggung jawab atas ucapan itu dengan perbuatan anda.

Maka tiga hal yang harus anda lakukan; pertama, menulislah. Kedua, terus menulis. Ketiga, terus dan teruslah menulis.

Semarang, 01/09/12

Lebih Sopan Kuntilanak

Jumat, 28 September 2012


Pemuda desa bernama Ahmad jalan-jalan ke kota untuk menghilangkan kegelisahan hidupnya. Sesampainya di kota, ia kebingunan hendak kemana. Langkah kakinya telah mengantarkan dia menuju ke sesuatu keramaian. Ia mencoba ke sana, sebab banyak orang berdatangan ke tempat itu.

Ternyata ia telah sampai ke sebuah mall berlantai lima. Di sana ia melihat lalu lalang orang menghabisakan waktunya, sepertinya rasa gelisahnya dapat terobati di tempat itu. Namun ternyata ia rasa gelisahnya semakin bertambah. Karena ia melihat kebanyakan dari kaum hawa memakai pakaian yang serba mini.

“Pantas aja di desaku sekarang banyak wanita berpakaian mini,” dalam hati Ahmad berkata.

Barangkali ini efek dari arus perubahan zaman, dimana kita tidak bisa menyaring hal-hal yang negatif. Kita hanya bisa menirukan gaya masyarakat urban yang cenderung menularkan virus gaya hidup made in barat. Tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran.

Ahmad menyudahi perjalanannya hari ini, ia telah menambah rasa gelisahnya. Sebelum sampai di rumah, ia mampir ke rumah gurunya Pak Muh. Untung saja Pak Muh ada di teras rumah, merekapun berdialog. Lalu Ahmad mempertanyakan kegelisahannya.

“Mengapa banyak wanita berpakain sexy. Memperlihatkan bentuk kulitnya?”

“Gersang,” jawab Pak Muh

“Apa itu?” Ahmad penasaran atas jawaban singkat itu.

“seGER dan meraSANG.” Kata Pak Muh. Ahmad tertawa lepas.

Kemudian Pak Muh menjelaskan kepada Ahmad; “bahwa kesopanan kita sekarang telah kalah dengan kuntilanak”. Meski kuntilanak tidak memakai jilbab ataupun kerudung, namun pakaian mereka lebih tertutup di bandingkan wanita sekarang memperlihatkan lekuk tubuhnya

“Katakanlah kepada wanita  yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31)

Semarang, 19/09/12

Tawuran vs Tawaran

Kamis, 27 September 2012

Tanpa sadar banyak orang mengalami tekanan dalam menjalani hidupnya. Bukannya beban masalah yang terlalu berat ataupun memiliki segalanya. Akan tetapi oleh sebab nilai-nilai budaya yang seakan luntur di negeri ini.

Tentu dalam menikmati hidup, hal terpenting yang harus dilakukan adalah berusaha menjadi baik berkahlakul karimah dan sadar akan tanggung jawab. Prinsip itu semestinya tertanam kepada orang-orang terdidik yang bisa menikmati bangku sekolah.

Dalam kesendirian Pak Muh, merenungkan kisah tawuran anak sekolah yang tega dan berani membunuh. Dari lubuk hatinya ia berucap, waktu sekolah dulu jika di tampar, di cubit maupun di ludahi oleh guru. Hal itu sudah bisa, namun sekarang pelanggaran HAM dan bisa-bisa masuk penjara.

“Inikah kebebasan,” kata Pak Muh.

Iapun melanjutkan sebuah kemungkinan, apakah sekarang sekolahan hanya tempat pengajaran bukan tempat belajar. Bukan ingin mensalahkan guru, dahulu guru di gaji sedikit sehingga jarang orang ingin menjadi guru. Mereka yang berkeinginan menjadi guru, hanya orang-orang yang tulus memberikan ilmunya.

“Inikah kebutuhan,” kata Pak Muh.

Apakah ada yang salah dengan tujuan pendidikan kita, slogan pendidikan berkarakter seakan tidak mampu untuk menangulangi kisah mereka. Sungguh pendidikan bertujuan untuk membentuk anak untuk memiliki akhlakul karimah.

“Inikah kemauan,” kata Pak Muh.

Hingga pada akhirnya budaya tawuran sudah menjadi rutinitas di negeri ini baik dilakukan oleh masyarakat, mahasiswa hingga pelajar. Inikah kebebasan untuk melakukan sebuah keputusan. Inikah kebutuhan untuk mempertahankan diri. Inikah kemauan untuk menang sendiri.

Sungguh kita adalah saudara, maka seharusnya saling mengerti dan berbagi dalam susah maupun senang. Mengapa kau saling membunuh, itu bukan hakmu, kata Pak Muh. Iapun menangis dalam kesendiriannya dan membayangkan kiamat (kehancuran) ada di depan mata.

“Dan barangsiapa yang mebunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisaa: 93)

“Hari kiamat tidak akan tiba, sehingga seseorang membunuh tetangganya, saudaranya, dan bapaknya.” (HR. Bukhari)


Semarang, 25/09/12

Aku Malu, Tulisan Tidak Masuk Media Masa

Setiap diri kita dikaruniai bakat dan potensi yang dibawa sejal lahir. Sehingga potensi yang meliputi diri, kita berkewajiban untuk mengembangkannya. Hal ini mengisyaratkan pesan bahwa, setiap manusia yang terlahir membawa fitrah potensi sebagai bentuk perwujudan untuk melaksanakan amanah menjadi khalifah atau pemimpin di bumi. Dengan bekal berupa potensi tersebut, manusia bisa untuk melangsunkan kehidupannya di dunia.

Langsung saja tidak usah basa-basi. Kita harus memiliki keyakinan bahwa setiap diri kita memiliki potensi dan bakat masing-masing. Bahkan setiap diri kita memiliki pengalaman masing-masing dan tentunya proses yang kita jalani berbeda sehingga menghasilkan suatu yang beda pula. Dalam hal ini dapat disarikan bahwa kita bisa menulis, meskipun bukan penulis profesional. Jadi potensi menulis di miliki siapa saja, tentu bagi mereka yang ingin menulis.

Lain halnya yang ingin menjadi penulis, maka ia berkewajiban untuk mengasah dan mengembangkan potensi dan bakat menulisnya. Bukan sekedar menulis, tapi benar-benar mampu menjadi barang yang bernilai di mata banyak orang.

Salah satu menilai apakah kita memiliki bakat menjadi penulis, tulisan kita harus mampu menembus media masa. Karena dengan menembus media masa, berarti setidaknya tulisan kita diakui pihak redaksi. Sehingga hasil tulisan kita dapat di konsumsi oleh banyak orang. Dari situlah kita dapat mengevaluasi hasil karya kita. Apakah benar-benar berkualitas, atau sebab kasihan dari pihak redaktur karena kita sering menulis tapi tidak sering di muat. Tapi tetap optimis, itulah karya kita.

Saatnya tulisan kita memembus media masa, berikut tips sederhana supaya kita gemar menulis dan tentunya menembus media masa;

Pertama, mengenal media masa baik koran, majalah, maupun bulletin. Lalu telusuri karakter tulisan media tersebut, maupun bentuk-bentuk persyaratan dalam mengirimkan naskah naskah tulisan. Kemudian kumpulkan alamat redaksi tesebut baik email redaksi maupun email rubrik tulisan dan tentunya alamat kantor, hal ini sebagai database diri anda.

Kedua
, buat tulisan untuk rubrik yang anda senangi, semisal rubrik cerpen. Maka buatlah cerpen satu minggu sekali minimal 2 (dua) naskah. Lalu kirim ke media yang berbeda. Teruslah berusaha menulis 2 naskah cerpen meski belum sampai termuat di media masa. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Alam Nasyrah:  94).

Coba pikirakan jika dalam satu minggu anda membuat 2 naskah cepen, maka dalam satu bulan anda sudah mengumpulkan 8 (delapan) cerpen. Jika satu tahun maka anda sudah memiliki naskah cerpen yang berjumlah 96. Sungguh luar biasa bukan, dan semoga dengan jumlah yang sedemikan banyaknya itu salah satu naskah dapat termuat di media masa. Jika di pikir ulang, jumlah naskah itu jika di bukukan sendiri atau secara indie tentu berlembar-lembar. Hari-hari anda merupakan lembaran, maka gorekan tulisan kebaikan dan tulislah dengan pena makan akan terkenang.

Ketiga, memiliki kemauan luar biasa. Tanamkan bahwa rendah kemauan merupakan bentuk akhlak yang rendah, sifat yang hina dan sangat memalukan. “Sesungguhnya Allah tidak merubah nasih suatu kaum (diri anda), sehingga mereka merubah nasih yang ada pada diri mereka”. (QS. Ar-Ra’d: 11).

Kemauan luar biasa merupakan akhlak luhur dan tujuan mulia yang senantiasa akan membangkitkan rasa optimis anda. Dengan kemauan luar biasa senantiasa memotivasi anda untuk meraih yang lebih baik. “Tidak ada Adwa (penularan penyakit) dan rasa putus asa, tetapi optimis yang Saya cintai, yaitu kata-kata yang baik”. (HR. Bukhari).

Sedangkan senjata atau obat dari kemauan luar biasa adalah “sabar”. Sebab sabar merupakan sifat terpuji, sebagai upaya untuk menerima dari hasil usaha anda. “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu”. (QS. Ali-Imran: 200).

Keempat, saling berbagi atau sedekah. Ini adalah bentuk rasa syukur anda, jika naskah tulisan termuat di media masa dan mendapatkan honor tulisan maka gunakanlah untuk saling berbagi. “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk memberikan sedekah, lalu seseorang berkata, “Saya mempunyai satu dinar.” Rasulullah menjawab, “Nafkahkan untuk dirimu” Dia berkata, “Aku mempunyai yang lain.” Rasulullah menjawab, “Nafkahkanlah untuk istrimu.” Dia berkata, “Aku mempunyai yang lain?,” Rasulullah menjawab, “Nafkahkanlah untuk pelayanmu, kemudian engkau lebih mengetahuinya”. (HR. Abu Daud).

Dengan saling berbagi, insyallah akan di mudahkan dalam membuka pintu rizeki dan di mudahkan dari segala urusan termasuk kemauan untuk menjadi penulis.

Saatnya untuk terus berusaha dengan kemauan yang luar biasa, proses atau usaha anda adalah cemeti atau cambuk untuk mendorong meraih kesuksesan dan kemuliaan. Tetap berkarya, tebarkan benih-benih karya untuk kedamaian semesta.
Semarang, 27/09/12

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mahasciena
Copyright © 2011. Mahasciena - Lukni Maulana - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Lukni Maulana
Present by Rumah Pendidikan Sciena Madani