Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Curhat Umat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat Umat. Tampilkan semua postingan

Meminta Kepemimpinan

Sabtu, 08 Desember 2012

Manusia terlahir dengan visi utamanya menjadi khalifah atau pemimpin di dunia. Namun jika menjadi pemimpin di realitas masyarakat dengan anak turunnya berupa jabatan, tentu memiliki kenikmatan sendiri. Bahkan menjadi seorang pemimpin dengan jabatan tinggi merupakan impian.
Namun sungguh aneh sekarang, kata Pak Muh.

Anehnya bukan karena visi utama, melainkan kepemimpinan yang berupa jabatan kini semakin diperebutkan. Tentu saja jabatan kepemimpinan yang menjanjikan berbagai kenikmatan dunia. Untuk mendapatakannya terkadang harus siap mengeluarkan uang dan harta yang banyak.

Inilah ambisi manusia atas jabatan kepemimpinan, bisik Pak Muh. Lalu ia berfikir tentang hadist Rasul, “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan mejadi penyesalan.” (HR. Bukhari).

Ini memang sudah terjadi, semua berambisi untuk merebutkannya baik kursi jabatan untuk menjadi presiden, menteri, gurbernur, wali kota, bupati bahkan ditingkatan terkecil menjadi lurah maupun di sebuah lembaga organisasi.

Apakah karena menjadi pemimpin memudahkan seseorang untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu yang menawarkan kepopuleran hidup, ketenaran kehormatan atau akan mendapatkan status sosial yang tinggi. Ah..sungguh aneh dunia kepemimpinan ini, semua jadi lahan rebutan. Pak Muh ingat nasehat Rasulullah kepada para sahabatnya tentang kepemimpinan.

“Wahai Abdurrahman bin sumarah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena pemintaanmu, niscaya akan dibebankan keadamu (tidak akan di tolong).” (HR. Bukhari)

Bahkan suatu ketika ada sahabat Rasulullah yakni Abu Dzar Al-Ghifari datang kepada Rasul, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, tidaklah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?”. Mendengar permintaanku, lalu Rasul menepuk pundakku seraya berkata:

“Wahai Abu Dzar engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim)

Ya..inilah dunia, apa lagi jika ada kata-kata politik partai, semua berkeinginan menambang suara dalam rangka memperoleh simpati masyarakat sehingga berbagai macam cara dilakukan seperti suap, membeli suara maupun mengeluarkan biayaya kampanye yang tinggih. Inilah jalan untuk memudahkan meraih jabatan. Untuk mejadi calon saja, ia rela mengkampanyekan dirinya dengan berbagai macam program dan visi. Namun sesungguhnya program dan visi misi adalah sebuah perkataan amanah yang harus dilaksanakan.

Sejenak Pak Muh merenungkan berbagai macam tragedi kepemimpina di negeri ini. Ketika seseorang telah meraih jabatan, sungguh malang mereka yang menjadikan jabatan menjadi ladang memenuhi hawa nafsunya sehingga tak heran jika banyak pejabat tersandung masalah korupsi.

“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Muslim)
Semarang, 8/12/12

Vaksin Anti Galau

Selasa, 27 November 2012

Allah telah menciptakan manusia yang begitu sempurna, sehingga ia harus siap untuk menjadi khalifah atau pemimpin di bumi. Sebab tidak ada makhluk lain yang tidak mampu memikul amanh tersebut. Maka ia di ciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya (QS. At-Tiin: 4).

Sisi tubuh manusia juga dibentuk sedemikian rupa sehingga memiliki keseimbangan, zat antibody juga melingkupinya sehingga dapat dijadikan tameng untuk menjaga kesehatan manusia.

Namun  sejatinya Ahmad mengalami kegalauan menghadapi gejolak hidup ini. Persoalan demi persoalan silih berganti, padahal Pak Muh sudah sering berpesan kepadanya, bahwa segala sesuatu penyakit ada obatnya.
“Allah telah memberikan Vaksin disetiap diri manusia,” katannya.

Kegalauan merupakan penyakit diri, bukan fisik seperti penyakit batuk, flu atau kanker. Sesungguhnya Allah telah memberikan zat antibody tersebut, namun kebanyakan manusia tidak menyadari.

Jika ditimpa suatu masalah, manusia mudah putus asa, galau ataupun merasa bahwa dirinya tidak bisa apa-apa. Maka keyakinan semacam itu harus dihilangkan, sebab Allah telah memberikannya. Namun kebanyakan manusia tidak menyadari apa yang diberikan.

Vaksin tersebut ada beragam jenis, agar manusia terhidar dari rasa galau ataupun pesimis dalam menjalani hidup ini. Vaksin ini yakni sikap yang lahir dari dalam diri manusia seperti rasa syukur, tawakal, sabar, berdoa dan muhasabah diri.

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 58).

Manusia tidak ubahnya seperti tumbuhan, tumbuhan yang berada dilahan yang buruk, lambat laun akan rusak dan bahkan mati. Sedangkan dilahan subur, maka tumbuhan itu akan tumbuh subur dan menampakan keelokannya.

Demikianlah manusia, apabila ia mampu menjaga dirinya untuk tumbuh subur, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang terbaik dan terdidik karena ia mampu memahami arti kehidupan. Bawasannya disetiap kejadian ada tanda-tanda bagi orang yang berfikir.

Semarang, 09/10/12

Penghinaan

Senin, 08 Oktober 2012


Suatu ketika Ahmad mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari pacarnya. Sehingga ia mendapatkan penghinaan dan bahkan ia mendapatkan caci makian yang begitu mensakiti hati. Perasaan ahmad semakin teriris-iris, bahkan bagai di tusuk pedang tepat mengenai jantungnya. Sehingga sepertinya sebentar lagi ajal akan menjemput.

Semuanya semakin terlihat ketika Ahmad dianggap orang yang memiliki tingkat intelektual rendah dan bahkan segala hal ia selalu di rendahkan dan di cela.

Ia ceritakan kejadian itu kepada Pak Muh. Bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan dan bahkan ia seperti di permainkan oleh kehidupan.

“Setan itu merendahkan manusia.” Kata Pak Muh

“Apa maksud kata-kata itu?”

“Sejak pertama manusia ada, ia sudah mendapatkan penghinaan,” jawab Pak Muh.

Sungguh manusia terlahir dari kehinaan, ia tercipta dari tanah dibandingkan dengan mahkluk laia. Namun sesungguhnya tanah adalah puncak tertinggi dari hakikat semesta. Karena semua akan kembali menjadi tanah.

Pak Muh memberikan doa yang selalu di ucapkan Rasulullah; “Sesungguhnya Saya tidak lain adalah manusia, maka janganlah Engkau siksa Saya, dan siapapun dari orang mukmin yang Saya sakiti atau aku caci maki, maka janganlah Engkau menyiksa Saya karenanya." (HR. Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. AL-Hujuraat: 11)

Semarang, 18/09/12

Amalan dan Jimat

Sabtu, 06 Oktober 2012

Waktu sudah menunjukan untuk mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Pak Muh segera masuk ruang kuliah. Dilihatnya para mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan, ia hanya bisa tersenyum dan berharap kelak mahasiswa yang ia ajar menjadi orang yang ilmunya bermanfaat hingga mengantarkannya menjadi orang sukses.

Selang beberapa waktu, ada salah satu mahasiswa mempertanyakan tentang hukum menggunakan amalan, hizb ataupun jimat. Pak Muh sadar betul bahwa mahasiswa tersebut berkeinginan untuk memperdalam diluar kebanyakan orang modern.

Jika masyarakat Jawa, ketika memiliki anak kecil yang belum cukup umur, orang dahulu selalu memakaikan kalung yang berisikan tulisan-tulisan Al-Qur’an. Mereka meyakini dengan memakai jimat tersebut, si anak akan terhindar dari bahaya dan malapetaka. Begitu juga dengan rumah-rumah yang terkadang kita melihat tulisan-tulisan arab menempel di atas pintu masuk rumah. Hal ini juga di yakini untuk mengusir bentuk-bentuk kejahatan dan terlindung dari malapetaka.

Apakah di era modern ini masih mempercayai hal itu, bisa jadi hal itu dianggap tidak rasionalis. Sebab era modern cenderung berparadigma positivistik yang berpandangan segala sesuatu harus rasionalis dan empiris. Ataukan hal tersebut di anggap bidah, segala amalan yang tidak ada pada zaman rasul.

“Alam semesta memiliki energi dan energi menghasilakan kekuatan,” jawab Pak Muh.

Mahasiswa merasa senang mendapatkan jawaban singkat tersebut. Karena ia mendapatkan restu untuk mengamalkan apa yang ia kehendaki dan memakai jimat supaya mendapatkan keberkahan hidup.

Amalan doa, zikir, hizib maupun memakai jimat merupakan bentuk usaha ikhtiar seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa yang bertujuan untuk mendapatkan ketenangan, perlindungan maupun terhindar dari marabahaya.

Tentu bentuk amalan dan jimat itu tidak mengandung unsur kesyirikan; “Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad).

Alam itu memiliki energi, baik itu air, matahari maupun udara yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan kekuatan. Begitu juga dengan amalan yang datang dari pencipta alam semesta berupa wahyu yang diturunkan kepada Rasul Muhammad yakni Al-Qur’an.

“Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ''Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR. Muslim)

Semarang, 03/10/12

Celana di Bawah Lutut

Senin, 01 Oktober 2012

Ahmad seorang pemuda kampung yang kini tinggal di kota, sudah hampir satu minggu ia menetap di rumah saudaranya. Karena bosan di rumah terus, Ahmad memutuskan untuk keluar jalan-jalan sendiri. Siapa tau bisa menghilangkan rasa penat, katanya.

Ia sangat menikmati kesendiriannya, selang berapa waktu ia tengok jam tangganya. Waktu sudah sore, ia baru ingat bahwa dirinya belum menunaikan shalat ashar. Ia putuskan untuk mencari masjid terdekat.
Selesai shalat ashar, ia melihat sisi kanan masjid yang dipenuhi para jamaah. Oh..ternyata ada kajian tematik. Ahmadpun tertarik untuk mengikutinya. Di lihatnya banyak dari para jamaah yang memakai pakaian di bawah lutut.

Selesai mengikuti kajian, Ahmad penasaran tentang mengapa para jamaah memakai pakaian celana di bawah lutut. Iapun menelepon Pak Muh, menanyakan perihal tersebut.

“Sarung (celana) yang di bawah mata kaki akan ditempatkan di neraka”. (HR. Bukhari). Ahmad merasa ketakutan.

Sunnah memakai pakaian tidak melebihi kedua mata kaki. Haram jika mengenakan pakaian sampai di bawah mata kaki jika dimaksudkan lil khulayah atau karena faktor kesombongan.

“Allah tidak melihat orang yang merendahkan pakaiannya dengan penuh kesombongan”. (HR. Bukhari)
Kain celana atau sarung di atas mata kaki dimaksudkan supaya terbebas dari kotoran atau najis. Ahmadpun di persilahkan memakai pakaian sebatas mata kaki, asalkan mampu menjaga celana dari kotoran dan najis.

“Oh..gitu, alhamdulillah. Lha saya kan ketika shalat memakai pakaian khusus shalat.” Kata Ahmad.

Pakaian merupakan produk budaya dan kita diajarkan untuk tahzin atau etika dalam berpenampilan yang sesuai dengan adat lingkungan dan pastinya menghindari tata cara yang dilarang. Sesuai dengan ketentuan yakni untuk laki-laki harus menutup bagian tubuh dari mulai pusar hingga sampai ke lutut.

Semarang, 22/09/12

Lebih Sopan Kuntilanak

Jumat, 28 September 2012


Pemuda desa bernama Ahmad jalan-jalan ke kota untuk menghilangkan kegelisahan hidupnya. Sesampainya di kota, ia kebingunan hendak kemana. Langkah kakinya telah mengantarkan dia menuju ke sesuatu keramaian. Ia mencoba ke sana, sebab banyak orang berdatangan ke tempat itu.

Ternyata ia telah sampai ke sebuah mall berlantai lima. Di sana ia melihat lalu lalang orang menghabisakan waktunya, sepertinya rasa gelisahnya dapat terobati di tempat itu. Namun ternyata ia rasa gelisahnya semakin bertambah. Karena ia melihat kebanyakan dari kaum hawa memakai pakaian yang serba mini.

“Pantas aja di desaku sekarang banyak wanita berpakaian mini,” dalam hati Ahmad berkata.

Barangkali ini efek dari arus perubahan zaman, dimana kita tidak bisa menyaring hal-hal yang negatif. Kita hanya bisa menirukan gaya masyarakat urban yang cenderung menularkan virus gaya hidup made in barat. Tanpa menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran.

Ahmad menyudahi perjalanannya hari ini, ia telah menambah rasa gelisahnya. Sebelum sampai di rumah, ia mampir ke rumah gurunya Pak Muh. Untung saja Pak Muh ada di teras rumah, merekapun berdialog. Lalu Ahmad mempertanyakan kegelisahannya.

“Mengapa banyak wanita berpakain sexy. Memperlihatkan bentuk kulitnya?”

“Gersang,” jawab Pak Muh

“Apa itu?” Ahmad penasaran atas jawaban singkat itu.

“seGER dan meraSANG.” Kata Pak Muh. Ahmad tertawa lepas.

Kemudian Pak Muh menjelaskan kepada Ahmad; “bahwa kesopanan kita sekarang telah kalah dengan kuntilanak”. Meski kuntilanak tidak memakai jilbab ataupun kerudung, namun pakaian mereka lebih tertutup di bandingkan wanita sekarang memperlihatkan lekuk tubuhnya

“Katakanlah kepada wanita  yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31)

Semarang, 19/09/12

Tawuran vs Tawaran

Kamis, 27 September 2012

Tanpa sadar banyak orang mengalami tekanan dalam menjalani hidupnya. Bukannya beban masalah yang terlalu berat ataupun memiliki segalanya. Akan tetapi oleh sebab nilai-nilai budaya yang seakan luntur di negeri ini.

Tentu dalam menikmati hidup, hal terpenting yang harus dilakukan adalah berusaha menjadi baik berkahlakul karimah dan sadar akan tanggung jawab. Prinsip itu semestinya tertanam kepada orang-orang terdidik yang bisa menikmati bangku sekolah.

Dalam kesendirian Pak Muh, merenungkan kisah tawuran anak sekolah yang tega dan berani membunuh. Dari lubuk hatinya ia berucap, waktu sekolah dulu jika di tampar, di cubit maupun di ludahi oleh guru. Hal itu sudah bisa, namun sekarang pelanggaran HAM dan bisa-bisa masuk penjara.

“Inikah kebebasan,” kata Pak Muh.

Iapun melanjutkan sebuah kemungkinan, apakah sekarang sekolahan hanya tempat pengajaran bukan tempat belajar. Bukan ingin mensalahkan guru, dahulu guru di gaji sedikit sehingga jarang orang ingin menjadi guru. Mereka yang berkeinginan menjadi guru, hanya orang-orang yang tulus memberikan ilmunya.

“Inikah kebutuhan,” kata Pak Muh.

Apakah ada yang salah dengan tujuan pendidikan kita, slogan pendidikan berkarakter seakan tidak mampu untuk menangulangi kisah mereka. Sungguh pendidikan bertujuan untuk membentuk anak untuk memiliki akhlakul karimah.

“Inikah kemauan,” kata Pak Muh.

Hingga pada akhirnya budaya tawuran sudah menjadi rutinitas di negeri ini baik dilakukan oleh masyarakat, mahasiswa hingga pelajar. Inikah kebebasan untuk melakukan sebuah keputusan. Inikah kebutuhan untuk mempertahankan diri. Inikah kemauan untuk menang sendiri.

Sungguh kita adalah saudara, maka seharusnya saling mengerti dan berbagi dalam susah maupun senang. Mengapa kau saling membunuh, itu bukan hakmu, kata Pak Muh. Iapun menangis dalam kesendiriannya dan membayangkan kiamat (kehancuran) ada di depan mata.

“Dan barangsiapa yang mebunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisaa: 93)

“Hari kiamat tidak akan tiba, sehingga seseorang membunuh tetangganya, saudaranya, dan bapaknya.” (HR. Bukhari)


Semarang, 25/09/12

Kemenangan Menjadi Pemimpin

Rabu, 26 September 2012

Kehidupan di dunia ini amat sangat realistis, sehingga segala sesuatunya dapat di ukur, di lihat atau bahkan di rasakan.  Seperti saat seseorang berani melepas jabatan di masyarakat, untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Proses pelepasan tersebut pastinya sudah dipertimbangkan secara matang-matang, hingga ia berani mengambil keputusan.

Pelepasan jabatan itu terjadi di masyarakatnya Ahmad, pemimpin yang menjabat Walikota itu, berani tampil untuk menduduki kursi tertinggi di ibu kota Negara. Bahkan masyarakat sangat mendukung sang Walikota untuk bisa mendapatkan jabatan tersebut. Apa lagi katanya untuk mengharumakan nama kotanya.

Sungguh luar biasa tentunya dapat menaklukan ibu kota Negara. Apa lagi lawan politiknya di dukung partai besar dan incumbent pula serta asli penduduk setempat. Tentu sang Walikota memiliki tantangan yang berat.

Sehingga Ahmad mengikuti perkembangan pemilihan gurbernur tersebut. Hingga pada akhirnya sang Walikota mampu menjadi pemenang. Iapun melihat berbagai media baik media cetak maupun media elektornik yang isi beritanya menampilkan figur Walikota.

Saat di pos ronda bersama Pak Muh, Ahmad bercerita bahwa dirinya mengikuti perkembangan pemilihan Gurbernur. Pak Muh hanya bisa tersenyum, lalu bertanya:
“Kamu bangga”
“Jelas. Bahkan aku bernazar untuk memotong gundul rambutku ini,” sahut Ahmad
“Bangga dengan kemenangan,” kata Pak Muh
“Ya..pastinya seperti itu.” Kata Ahmad

Sungguh aneh dunia sekarang ini. Sungguh menjadi pemimpin adalah amanah yang besar, mereka sangat bangga ketika menjadi pemenang layaknya kontes pertandingan. Mereka bisa tersenyum lebar dan bahkan mengelar berbagai macam bentuk ekspresi rasa syukur.

Ketika seseorang menjadi pemimpin di pemerintahan mereka mendapat sambutan dari berbagai elemen masyarakat. Mendapat pujian dan ucapan selamat. 

"Seseorang berdiri sambil menyanjung salah seorang Amir (pemimpin) dari pemimpin-pemimpin lainnya, lalu Al Miqdad menumpahkan debu pada wajahnya dan berkata, 'Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kita agar menumpahkan debu pada wajah orang-orang yang suka memuji”. (HR. Muslim).
Andai mereka tahu bahwa para malaikat dan mahkuk lainnya tidak sanggup mengembang amanah, maka amanah itu dilimpahkan kepada manusia. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” (QS. Al-Ahzab: 72).
Kita semua adalah pemimpin yang harus mempertanggung jawabkan kepemimpinan. "(Ingatlah) semua kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang apa dipimpinnya, Pemimpin yang memimpin manusia adalah yang bertanggung jawab dan dia dituntut pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang lelaki pemimpin atas keluarganya, dan dia dituntut pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Hamba sahaya seseorang (menurut suatu riwayat, dan pelayan) adalah pemimpin atas harta majikannya, dan dia dituntut pertanggungjawaban, (seorang wanita pemimpin dalam keluarga suaminya), (dan dia dituntut pertanggungjawaban)," -(aku mendengar tentang mereka dari Nabi  shallallahu 'alaihi wasallam dan aku mengira Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Seseorang (menjadi pemimpin) dalam menjaga harta bapaknya). Ingatlah, setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin dituntut pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya”. (HR. Abu Daud, Bukhari dan Muslim)

"Apabila salah seorang di antara kalian takut kesombongan dan kezhaliman pemimpin, maka berdoalah, 'Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan 'arsy yang Agung, jadilah Engkau pelindung saya dari fulan bin fulan dan kelompoknya dari makhluk-makhluk-Mu yang akan berbuat sewenang-wenang atau menzhalimi saya, Maha Agung perlindungan-Mu dan sanjungan-Mu, dan tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau." (HR. Bukkhari)

Semarang, 20/09/12

Serba Putus Asa

Jumat, 21 September 2012

Ahmad seorang mahasiswa semester akhir yang harus segera menyelesaikan skripsinya. Dia dapat peringatan baik dari kedua orang tuanya maupun pihak kampus. Iapun bahkan sudah mengalami keputus asaan, waktunya ia gunakan untuk bersenang-senang demi menghilangkan stresnya.
Karena sudah hampir satu tahun ia tidak bisa menyelesaikan pembuatan skripsi. Sehingga ia merasakan kejenuhan, apa lagi ditambah pihak orang tua yang menuntut segera lulus. Ingin melihat anak kesayangannya memakai toga wisuda.
Dalam kesendiriannya menikmati kopi di warung makan, ia teringat dengan gurunya Pak Muh. Lalu ia mengambil handphone dan menelponnya.
“Assalamualikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Maaf Pak Muh menganggu waktu maghribnya. Saya ingin konsultasi sedikit.”
“Silahkan. Banyak juga boleh,” sahut Pak Muh
Ahmad menceritakan keluhannya, bahwa ia kesulitan menyelesaikan pembuatan skripsinya dan ia dituntut untuk segera lulus. Ia mengatakan, tiap kali ingin bertemu pembimbing selalu tidak ada. Jika sampai bertatap muka dengan pembimbing skripsi, ia selalu mendapatkan kritikan dan suruh merevisi.
“Bagaimana solusinya?” tanya Ahmad
“Jika Allah selalu mengabulkan doa anda, tentu anda tidak akan menikmati ikhtiar atau usaha,” jawab Pak Muh singkat.
Ahmad hanya bisa mendapatkan jawaban itu. Ia kembali untuk merenungkan kata-kata Pak Muh. “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.” (QS. Al-Israa: 83).
Bagi seseorang harus ada usaha dan sikap optimis, sebab sikap optimis akan selalu mengatakan hal baik. “"Tidak ada Adwa (penularan penyakit) dan rasa putus asa,  tetapi optimis (alamat baik) yang Saya cintai, yaitu kata-kata yang baik." (HR. Bukhari dan Muslim)

Semarang, 18/09/12

Shalat Subuh

Kamis, 20 September 2012


Pada suatu malam yang cerah di hiasi bulan purnama yang indah Ahmad menghadiri acara pengajian di masjid jami di kampung sebelah. Ia berharap bisa mendapatkan ilmu dan pencerahn baru, sehingga hatinya menemukan ketentraman.

Sesampainya di sana, tempat telah dipadati para jamaah. Sepertinya tidak ada tempat untuk Ahmad, dari kejauhan ada yang memangil nama Ahmad. Iapun mencari arah suara itu, ternyata gurunya yang telah memanggilnnya. Ahmad menghampiri Pak Muh, meski tempatnya di pojok dan hanya bisa mendengar ceramah dari Pak Kiai. Tanpa bisa melihat bentuk wajah sang kiai.

Meski begitu Ahmad dan Pak Muh tetap bisa menikmati ceramah pengajian dengan penceramah Kiai dari Jawa Timur ini. Ahmad sangat menikmati lembut suara sang kiai, hingga sampai selesai ia mendengarkan berbagai keterangan dari sang kiai.

Di perjalanan pulang, ia di bonjeng montor oleh Pak Muh. Tiba-tiba Ahmad membincang sesuatu hal.

“Kenapa ketika pengajian maupun shalat hari-bari besar, jamaah masjid selalu ramai. Tapi kalau shalat subuh di jamin sepi?”.

Pak Muh mendengar ucapannya, lalu ia berkata “Sesuatu yang mudah di kerjakan, namun mudah untuk di tinggalkan”.

Ahmad semakin tenang hatinya, selain mendapatkan keterangan dari sang kiai, ia juga menemukan pencerahan dari sang guru. “Apabila Rasulullah selesai menunaikan shalat subuh, beliau selalu duduk di tempat shalatnya hingga terbit matahari.” (HR. Muslim).

Semarang, 19/09/12

Mahar Tafsir Al-Qur’an

Minggu, 16 September 2012

Di malam tepat sebelum shalat isyak, seorang perempuan teman Ahmad menelpon Pak Muh. Padahal jarum jam baru menunjukan pukul setengah tujuh. Namun Pak Muh tetap mengangkat HPnya meski pada saat itu ia harus aktifitas sesudah maghrib.
No HP itu tidak ada di PhoneBook, mungkin karena kebutuhan ia terima telepon tersebut. Ternyata perempuan itu sudah mengenalnya. Ia ingin curhat tentang permasalahannya soal menuju ke pelaminan.
“Sarana apa yang harus aku ketahui supaya bisa mengenal calonnya. Sebab ia baru saja mengenalnya dan diajaknya menikah?” tanya perempuan itu penuh pengharapan.
“Siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhan-Nya, “ jawab Pak Muh
“Ia akan membatalkan pernikahan karena hal sepele, sebab saya tidak mau dikasih mahar Tafsir al-Qur’an?” perempuan itu bertanya kembali
“Terima dan nikahlah walau itu berupa cincin besi“ jawab Pak Muh
“Apa itu mahar sesungguhnya?” lanjut perempuan itu
“Mahar itu ada dua. Pertama, mahar musamma adalah mahar yang disepakati dua orang yang disebutkan dalam akad nikah. Mahar ini dibagi dua yakni musamma mu’ajjal, mahar yang diberikan secara langsung dan musamma ghoiru mu’ajjal dan mahar mitsil. Mahar musamma, mahar yang pemberiannya ditangguhkan. Kedua, mahar mitsil, merupakan mahar yang menjadi ukuran keluarga mempelai wanita. Mahar yang besar kecilnya ukuran ditentukan oleh perempuan.” Pak Muh melanjutkan jawabannya.
“Sebab menolak mahar al-Qur’an, ia mau membatalkan pernikahannya. Aku bahkan dianggap perempuan materialis. Padahal aku mencintainya dan aku siap hidup dalam kekurangan?” perempuan itu semakin mengeluarkan keluh kesahnya.
“Terima dan nikahlah. “Diantara keberkahan seorang wanita ialah yang mudah urusannya dan murah maharnya (HR. Abu Dawud)”

Salatiga, 16/09/12

Ingin Menikah

Seorang laki-laki kurus lulusan salah satu kampus negeri di Semarang berkeinginan untuk menikah. Namun ia barusan lulus, belum memiliki pekerjaan tetap alias penganguran berijasah. Ia pun pergi ke rumah gurunya. Lalu ia ceritakan keinginannya, ia ingin menikah dalam kondisi penganguran. Ia berharap gurunya bisa memberikan siraman yang bisa menyejukan jiwanya.
“Guru, aku ingin menikah dalam kondisi jadi penganguran,” kesedihan nampak padanya.
“Subhanallah!” jawab Pak Muh.
“Tapi belum ada seorang wanita yang siap untuk di nikahi,” kata pemuda itu.
“Alhamdulillah!” jawab Pak Muh.
“Tolong berikan aku amalan. Agar ada seorang wanita bisa aku nikahi dalam kondisiku yang masih penganguran,” pinta pemuda itu.
“Allahu akbar!” jawab Pak Muh.
Pak Muh memeluknya lalu berkata, “Allah akan memberikan jalan bagi mereka yang berusaha”. Lalu Pak Muh membacakan surat An-Nuur ayat 32, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”

Semarang, 12/09/12

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mahasciena
Copyright © 2011. Mahasciena - Lukni Maulana - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Lukni Maulana
Present by Rumah Pendidikan Sciena Madani