Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan

Haji Mabrur vs Haji Mabur

Kamis, 15 November 2012

Terbit di www.nu.or.id (Situs Resmi Nahdlatul Ulama/NU Online) 


“ ... mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (Makkah). Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah maha kaya (tiada memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali-‘Imran: 96).


Islam merupakan agama rahmatal lil’alamin yang membawa pesan perdamainan, hal ini sesuai dengan makna Islam itu sendiri yakni “damai”. Perdamaian dalam Islam memiliki arti perdamaian dengan Allah maupun manusia. Perdamaian dengan Allah memiliki arti berserah diri kepada Allah, sedangkan dengan manusia yakni menjauhkan diri dari perbuatan keburukan dan kemungkaran kepada sesama akan tetapi selalu berbuat baik dengan sesama.

Sedangkan Islam sendiri dibangun dengan pondasi berupa rukun Islam, rukun tersebut sebagai pondasi tegaknya din al-Islam yang berjumlah lima. Kelima rukun tersebut adalah syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Di dalamnya mengandung bimbingan kepada manusia, bagaimana seharusnya ia berhubungan dengan sang pencipta dan berinteraksi dengan sesama makhluk.

Salah satu rukun Islam tersebut yakni ibadah haji (rukun Islam kelima). Ibadah haji merupakan ibadah yang terbaik, karena bukan hanya melibatkan aspek badaniah (jasmaniyah), tapi jugamaliah (harta). Bahkan juga aspek ruhaniyah. Ibadah ini merupakan ibadah yang istimewa, kenapa demikian?, karena ibadah haji merupakan jamuan dari Allah yang itu berarti bahwa orang yang melaksanakan ibadah haji merupakan tamu Allah, yaitu dengan mendatangi rumah Allah (baitullah). Berbeda seperti biasanya kalau kita bertamu, kita akan menerima apa saja yang disuguhkan tuan rumah, di rumah Allah orang yang berhaji dipersilahkan meminta apa yang diinginkan kepada sang tuan rumah (Allah), dan pasti akan dikabulkan oleh Allah.

Selain itu, ibadah haji merupakan ibadah yang sangat banyak mengandung unsur napak tilas terhadap perjuangan Nabi Ibrahim  dan Nabi Muhammad Saw. Karena dilaksanakan di Baitullah, tempat yang disucikan, tempat lahirnya ajaran- ajaran tauhid.

Mengali Makna Haji

Bagi umat Islam ibadah haji merupakan keinginan yang luar biasa karena didalamnya hanya diperuntukan bagi orang yang mampu atau sanggup (QS. Ali-‘Imran: 96). Bagi seorang yang berkeinginan melaksanakan ibadah haji ia harus mengeluarkan biyaya yang tidak sedikit, bahkan mencapai puluhan juta. Bahkan rela antri bertahun-tahun untuk mendapatkan jatah tiket berangkat ke Arab Saudi.

Sudah menjadi tradisi atau apa, ibadah haji seakan menjadi sesuatu yang “wauw”, karena berbagai macam acara di gelar seperti upacara pemberangkatan yang diiringi puluhan hingga ratusan orang. Jika telah pulang para jamaah haji seakan menyandang gelar Haji, dengan membawa oleh-oleh yang banyak dan syukuran haji yang menghabiskan dana tidak sedikit.

Namun alangkah ironis jika di sekelilingnya masih ada orang yang membutuhkan uluran tangan, ada orang yang tidak mampu untuk melanjutkan sekolah, anak jalanan, mushala yang rusak ataupun jalan kampung yang membutuhkan perbaikan.

Makna-makna ibadah haji akan terlihat jelas bila ditempatkan dalam perspektif gerakan kemanusiaan yang mengibarkan lambang abadi pesan egaliter sebagai salah satu manifestasi dalam doktrin monoteisme warisan Nabi Ibrahim, sang bapak spiritual dari seluruh agama tauhid. 

Dilihat dari aspek spiritualnya, ibadah haji merupakan pucak taqarrub illahiyyah (upaya pendekatan diri kepada Allah). Sedangkan dilihat dari aspek sosial edukatifnya, ibadah haji merupakan upaya pendekatan kemanusiaan. Dengan demikian dalam pelaksanaan ibadah haji, berpadu dua nilai, yaitu nilai moral spiritual dan nilai sosial.

Pelaksanaannya juga diorientasikan untuk menghayati perjuangan Nabi Ibrahim dalam melestarikan monumen ajaran tauhid (monoteisme), yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji harus mampu menghayati nilai-nilai suci didalamnya, nilai tersebut yakni; pertama nilai persamaan. Hal ini dapat diketahui dalam ritual ihram. Semua umat di wajibkan memakai lembaran kain berwarna putih yang bermakna persamaan tanpa membedakan ras, suku, bangsa, warna kulit mapun mahzab.

Kedua, persatuan. Terdapat dalam ritual thawaf, mengelilingi bersama-sama di bangunan ka’bah. Ka’bah yang merupakan satu-satunya arah kiblat bagi orang mu’min dalam melaksanakan ibadah shalat. Ini menunjukkan bahwa Allah adalah satu, yang menjadi tujuan dan pegangan hidup seluruh umat Muslim.


Ketiga, persaudaraan. Seseorang berkumpul disatu tempat dan dalam waktu yang sama, maka akan terbuka suatu kesempatan bagi mereka untuk bisa saling mengenal sehingga akan terjalin sebuah hubungan persaudaraan di antara mereka, dalam haji terdapat dalam wukuf di arafah, hajar aswad yang dilihat dari sejarah peletakan hajar aswad pada masa Nabi Muhammad Saw.

Keempat, kasih sayang, adapun nilai kasih sayang dalam ibadah haji dapat dilihat dari; Larangan dalam ihram, larangan bagi orang yang dalam keadaan ihram, yaitu larangan membunuh, berburu, menyembelih, ataupun larangan memotong atau merusak tanaman yang hidup di tanah haram. Berkurban yaitu dengan membagikan daging hewan kurban. Sa’i, yaitu ketika Hajar (ibu Ismail) merasa cemas akan nasib anaknya yang kehausan karena kehabisan persediaan air, maka Hajar-pun berlarian mendaki bukit Shafa dan Marwah utuk mencari air minum.

Ini merupakan sebuah isyarat rasa humanis (hubungan dengan sesama) dalam ritual ibadah haji. Seseorang yang sudah melaksanakan haji diharapkan mampu menerapkan keempat pesan suci ibadah haji yakni; persamaan, persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang sebab di sekitar lingkugan masih banyak yang membutuhkan.

Ketika mampu menerapkan nilai-nilai tersebut, semoga para jamaah haji mendapatkan haji yang mabrur. Bukan haji mabur (Jawa: Terbang), yang hanya naik pesawat dari Indonesia menuju Arab Saudi.

Kebangkitan Nalar Spiritualitas Di Era Posreligius

Rabu, 12 September 2012

Islam merupakan agama kesempurnaan, tidak ada penderitaan, kesusahan dan kesulitan dalam menjalankan kehidupan ini, kecuali seseorang yang telah menganiyaya dirinya sendiri untuk hidup menderita. Setiap umat Islam di perintahkan untuk selalu mendekatkan dirinya dengan Tuhanya sebagai bentuk kehambaan dan tidak memiliki daya dan upaya tanpa kebesaran-Nya. Inilah spiritualitas ajaran suatu agama bahwa di dalam realitasnya manusia tidak hanya memiliki kekuatan material namun juga kekuatan batin. Manusia digambarkan sebagai binatang yang berfikir (hayawanu an natiq) secara subtansial sebagai mahluk materi, pada satu sisi manusia juga sebagai mahluk spiritual yang di karuniai Qalb. Tetapi mengapa manusia mengalami dehumanisasi dan thingking destruction serta kehilangan makna hidup!

Sebuah Realitas Postmodern
Pada realitas hidupnya sekarang ini manusia telah mengalami dilema pada dirinya, diversitas kekuatan diri lenyap karena sekarang ini cenderung berjalan pada wilayah material. Inilah Era postkapitalis yang telah mendukung penyebaran nilai-nilai barat, perubahan sosial dan perilaku keagamaan yang terjadi akibat westernisasi tanpa meyaring nilai-nilai budaya lokal dan ajaran Islam, dimana gaya hidup manusia dengan praktek budaya dan agama sudah mulai tergerus dengan nilai-nilai barat yang begitu sekuler. Pada dekade berikutnya akankah eksistensi manusia bertahan seimbang, dimana globalisasi pasar dengan penyebaran informasi telah menyebarkan faham-faham liberal dengan pendikotomian antara agama dan dunia.

Sistem yang sekarang ini dibangun di setiap negara adalah sistem ekonomi yang hanya berorientasi pada pasar, sehingga setiap kebijakan yang di ambil bertujuan pada kebijakan pasar dunia sehingga tatanan sistem ekonomi dunia lebih condong pada wilayah kapital. Kalaupun perlu di setiap negara yang baru berkembang di tawari program ekonomi, recovery economy, liberalisasi perdaganagan (commerce liberalization), structural adjustment, program yang sebenarnya tidak dapat memulihkan sistem ekonomi suatu negara. Keterlibatan lembaga-lembaga Bretton Wood seperti Bank Dunia (world bank), World Trade Organization (WTO) dan IMF dan kelompok G-7 dalam kehancuran ekonomi negara-negara berkembang dan negara miskin cukup besar. Lembaga yang seharusnya membantu memulihkan kondisi ekonomi suatu negara dengan saluran dana keuangannya, akan tetapi malahan sebaliknya menjadi tangan panjang dari kepentingan-kepentingan ekonomi negara-negara maju terutama Amerika Serikat.

Neoliberalisme dengan struktur kapital telah mendorong secara radikal tatanan pemerintahan negara dari aspek budaya, ekonomi dan politik serta perilaku manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai Islam. Malalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi disebarkan gagasan neoliberalisme yang berakar pada pandangan tentang manusia ideal yaitu manusia rasional liberal dengan tujuan akhir pada individualisme. Pandangan ini didasari atas kepercayaan terhadap kemampuan akal manusia yang dapat mengubah seluruh tatanan alam maupun norma masyarakat.

Suatu hal yang tidak dapat dihilangkan bahwa manusia adalah mahluk dinamis (human balance) sebagai mahluk material dan immaterial. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dunia terasa semakin sempit dan fenomena manusia yang telah mengalami dekadensi moral. Perilaku sosial yang terjadi di kemasyarakatan semakin menjadi wabah penyakit yang siap menghancurkan generasi Islam. Perilaku kehidupan pada era informasi ini juga telah merambah kehidupan domestik di setiap negara yang mayoritas Islam. Maraknya kasus-kasus perceraian, pengunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia dan bunuh diri yang di sebut oleh Frijof Capra sebagai “penyakit-penyakit peradaban”. Ternyata perkembangan sains dan teknologi yang spektakuler pada abad ke 20 ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan umat manusia, ini di sebabkan pandangan pemikiran posmodern yang cenderung positivistik.

Pendidikan Spiritual Di Era Posreligus

Postreligus adalah wilayah di manusia telah mengalami kebosanan akibat sistem yang cenderung kapital orientasi duniawi lebih di unggulkan tanpa tahu hakikat kehidupan yang sebenarnya, kebangkitan keagamaan dan rindu akan nilai-nilai spiritualitas. Ungkapan Friedrich Wilhelm Nietzsche “god is dead”, Sigmund Freud “agama adalah candu”, inilah tafsir ulang yang perlu dikaji bahwa agama telah membawa dampak pengkikutnya yang mengalami kelemahan spirit. Akibat benturan peradaban positivistik akibat bangunan epistemologi Decretesian dan Newtonian inilah posmodern telah membawa berbagai dampak untuk melemahkan fungsi dan tujuan manusia hidup. Peradaban kapital yang menempatkan manusia berdasarkan rasionalitasnya dalam berfikir yang membawa efek pada pemikiran yang cenderung pragmatis.

Penyakit-penyakit peradaban akibat epistemologi positivistik yang menimpa manusia pada akhirnya lari dan kembali kepada ajaran agamanya dengan dalih bahwa agama akan menjadikan ketenagan batin akibat dari peradaban kapitalis. Dari sinilah pijakan yang menjadi dasar mengapa manusia mengalami keterasingan dan split personality dan ingin kembali kepada kearifan timur (learning wisdom east).. Maka untuk mewujudkan manusia yang ideal perlu rekonstruksi filosofis dalam menerapakan pendidikan spirutual sebab biar tidak terjadi pendekotomian pendidikan.

Dari berbagai fenomena sistem ekonomi liberal, manusia liberal rasional dan tujuan hidup berorientasi duniawi. Di perlukan paradigma filosifis untuk mewujudkan pendidikan spiritualitas akibat goncangan penyakit peradaban yang telah di alami manusia dan kearifan timur sebagai pencerah cahaya terang dengan landasan bahwa manusia ideal adalah manusia yang mengoptimalkan fitrah dan potensi yang dimiliki, rekonstruksi filosofinya yaitu:
1. landasan epistemologi, manusia di karunia keistimewaan dari mahluk lain berupa nafsu, akal dan hati yang perlu di didik optimal dalam proses pendidikan dengan konsep tauhid yaitu tahuid ulluhiyah, rububiyah, mulkiyah dan rahmaniyah agar memiliki sikap rasional kritis, kreatif, mandiri, bebas dan terbuka, bersikap rasional empirik, obyektif empirik, obyektif matematis dan profesional dengan tetap pada nilai-nilai kekhalifahan individu dan sosial kemasyarakatan. Hubungan tiga dimensi yang selalu satu padu Tuhan, alam dan manusia, tidak ada keterlepasan satu unsur yang akan mengakibatkan kebuntuan dalam menjalankan tanggung jawab dan amanah.

2. landasan ontologik, bahwa sistem liberalisme yang telah mengerogoti sistem kemasyarakatan dan individu yang mengalami depresi rasionalitas. Masyarakat yaitu sekumpulan individu yang terdiri dari berbagai agama, ras, etnis dan budaya yang kemudian di istilahkan dengan pluralistik. Pada dasarnya secara ontologik sistem kemasyarakatan yang pluralistik ini rentan dengan konflik-konflik sosial, karena di dalam tubuh kemasyakatan terdapat keberagaman (internal diversity). Dari sinilah bangunan pendidikan spiritual dapat memfungsikan peran manusia dalam interaksi sosial kemasyarakatan bukan koniksi yang menjadi dasar akan tetapi lebih pada sikap (value) dan perilaku (psikomotorik). Keberagaman merupakan firah maka moral dan etika hidup perlu dijalankan seimbang dan menjalin sikap keterbukaan. Landasan inilah yang akan mendorong manusia unggul di sikap spiritualitas value dan profesionalisme sesuai kaidah moral.

3. landasan aksiologik. Aspek keberagaman inilah yang akan membangun pondasi peradaban baru dimana tidak ada kesenjagan sosial antara individu satu dan yang lainya, miskin dan kaya. Dalam konteks kehidupan global sikap saling tolong menolong dan toleransi akan membawa kehidupan yang saling membutuhkan bukan seperti sistem kapitalisme dengan memberikan bantuan namun malahan menjadi beban baru pada kondisi ekonomi. Manusia akan mengetahui hak dan kewajibanya serta menghargai hak asasi manusia dan sikap demokratis.

Situasi dunia yang telah di hegemoni oleh kapitalisme, membuat manusia mengalami gejolak batin, penindasan dan keadaan alam yang marah karena dirinya telah dianiyaya. Melalui landasan filosofis diatas akan dapat mengetahui seberapa besar jiwa manusia untuk Tuhanya, alam dan manusia sekitarnya (muamalat). Prinsip persamaan, bahwa Allah telah menciptakan umat yang satu untuk membangun kejahteraan bersama di perlukanlah kesadaran individu dan sosial. Prinsip keadilan ekonomi, bahwa setiap manusia harus mengetahui di mana ia hidup dan siapa disekitarnya, Asghar Ali Engineer menegaskan kepada seseorang untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan apabila ia telah mampu mencukupi kebutuhan pokoknya. Prinsip pembelaan kaum mustad’afinl, manusia berbudi yaitu manusia yang selalu bersahabat dan dekat dengan kaum lemah (dhuafa) atau kaum tertindas (mustad’afin).

Semoga tercapai untuk membangun kembali manusia-manusia ungul (insan kamil) yang memiliki kelebihan kapasitas spiritualitas dan tidak melupakan aspek intelektualitasnya. Mengetahui fungsi hidupnya bahwa tujuan tertinggi manusia adalah menjadi orang yang bertakwa dekat dengan Tuhannya untuk mendapatkan ridho-Nya. Seyogyanyalah pendidikan spiritualitas diterapakan untuk membagun generasi Islam tanpa diversitas epistemik.

Ketupat, Fitrah dan Kedamaian

Senin, 27 Agustus 2012


Terbit di Buletin Ansoruna PAC GP Ansor Genuk Semarang

Kita sangat bergembira dan berbahagia, sebab mampu menjalankan ibadah puasa ramadhan selama satu bulan penuh. Maka akan menikmati hari kemenangan berupa hari raya idul fitri. Hari yang selalu ditunggu, didalamnya mengisyaratkan tradisi yang hanya dimiliki negera kita seperti tradisi mudik dan sungkem.

Bahkan kita memiliki keuikan sendiri yakni penyebutan idul fitri dengan mengatakan “lebaran”. Tentu kata tersebut memiliki sarat makna, yakni lebaran berasal dari kata “lebar” yang memiliki arti “selesai”. Berarti selesainya ibadah bulan suci ramadhan. Dinamakan lebaran karena manusia pada hari itu laksana bayi yang baru keluar dari kandungan yang tidak memiliki dosa.

Tradisi lebaran ditandai dengan perlambang atau simbol yakni “ketupat”. Merupakan sebuah tanda yang memiliki arti dan makna. Maka setiap organisasi maupun negara memiliki perlambang masing-masing. Misalnya Negara kita memiliki perlambang berupa bendera merah putih yang berarti berani dan suci.

Begitu juga engan lambing ketupat tersimpan makna yang dalam dan beragam arti, pertama ketupat berasal dari kata “telu (3) lan papat (4)”. Tiga mensimbolkan bahwa bulan ramadhan adalah rukun Islam yang ketiga diwajibkan untuk berpuasa. Sedangkan papat berarti rukun Islam ke empat yakni zakat. Karena setelah di waijbakannya berpuasa, orang yang beriman di wajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat idul fitri. Lebih dalamnya bermakna, ketika manusia sudah mampu berpuasa, maka harta benda sudah tidak memiliki arti karena ia mampu menahan keinginan dan cukup hanya sebatas kebutuhan.

Kedua, ketupat berasal dari bahasa arab “tauifat” yang memiliki arti jamaah, kelompok atau grup. Seluruh umat Islam di wajibkan untuk melakukan ibadah puasa, hal ini menunjukkan sebuah keseragaman dan kebersamaan. Tali persatuan dan kesatuan diutamakan, ketika saudara kita sakit maka kitapun merasakan sakit.

Ketiga, ketupat berarti “ngaku lepat” atau mengakui segala kesalahan baik yang disengaja ataupun tidak. Maka tidak heran di masyarakat ada tradisi “ujung-ujung” yang berarti berkunjung dari ujung sampai ujung. Mengapa ujung, karena ujung berarti puncak dan awalan. Ketika kita dilahirkan dalam keadaan suci, kembali ke pangkuan Tuhan harus dalam keadaan suci. Maka maaf menjadi sebuah senjata untuk memperbaiki kesucian.

Keempat, ketupat bermakna “mangku perkoro papat” atau kita memiliki empat beban perkara waktu melaksanakan puasa. Yakni menjaga hawa nafsu, shalat malam, tadarus atau membaca kitab suci dan zakat atau beramal. Mangku ataupun beban, bukan berarti sebuah perkara yang memberatkan akan tetapi menjadi sebuah ujian untuk menjadi yang terbaik. Karena selama satu bulan didik untuk menjadi manusia yang akan kembali fitrah, sahur di pertiga malam menandakan kita supaya gemar shalat malam. Intinya dalam perkara ini diajarkan nilai-nilai keistiqamahan.

Secara geometri pembuatan ketupatan sangatlah rumit, hal ini menandakan bahwa lika-liku kehidupan manusia amatlah rumit dan terkadang dilumuri banyak dosa. Namun jika membelah ketupat tersebut, sungguh kita akan takjub karena didalamnya ada sebuah warna putih, bersih dan suci serta enak dimakan. Menandakan bahwa pada ramadhan ini kita di didik menjadi manusia yang mulia. Allah berfiraman dalam surat Ali-Imran ayat 110:

kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

Kesucian hamba
Idul fitri yang berarti kembali ke fitrah (awal kejadian), dalam arti mulai hari itu dan seterusnya diharapkan kita selalu menjaga kesucian tersebut. Dimana pada awal kejadian manusia, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah tuhan yang esa. Dalam istilahnya dikenal dengan “perjanjian primordial”, sebuah perjanjian antara manusia dengan Tuhannya yang berisi pengakuan “ke-Tuhan-nan”. Allah berfirman dalam surat Al-Araf ayat 172):

dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"

Namun seiring perjalanan waktu banyak diantara manusia dalam menapaki hidupnya melupakan Allah. Shalat hanya sebagai rutinitas tanpa sarat makna, bahkan meninggalkan shalat. Padahal shalat merupakan penghubung hamba dengan Tuhannya. Mulailah manusia berlumuran dengan dosa, untuk memahami makna “fitrah”, maka manusia harus mampu membangun kembali pengabdian sebagai seorang hamba.

Fitrah kedamaian
Bangsa ini telah dilanda masalah kemanusiaan, lahir perilaku-perilaku menyimpang seperti korupsi, perang antar suku, pembunuhan, perampokan dll. Sungguh hal tersebut sangat memilukan, maka moment idul fitri merupakan ajang menggali kembali hakekat manusia atau hakekat diri kita sendiri.

Hakekat manusia itu sendiri adalah “fitrah” atau kesucian, melalui fitrah tersebut akan menyelamatkan manusia dari berbagai masalah kemanusiaan. Melalui usaha membimbing pribadi yang baik dengan keseriusan, ketulusan dan keikhlasan, akan mewujudkan kedamaian, keadilan bagi semua tanpa memandang dari suku, agama, ras dan latar belakang sosio-politik dan mampu mewujudkan tatanan masyarakat yang di ridhoi Allah.

Mari saatnya kita kembali kepada diri kita, mengoreksi setiap kesalahan dan selalu memperbaiki diri menjadi pribadi yang mulia. Sebab kita adalah manusia yang merupakan satu komunitas “ummatan wahidah”. Allah berfirman adalam surat Yunus ayat 19:

manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu”.

Namun kemudian manusia saling berselisih dan berbeda pendapat. Dari perbedaan dan perselisihan tersebut munculah konflik dan perang. Kejadian ini tidak hanya antar suku ataupun antar negara, bahkan sesama suku, agama dan bangsa sendiri. Hal inipun dialami umat Islam, dimasa Nabi tidak ada istilah sunni, syiah dan khawarij. Istilah itu muncul setelah perang siffin pada tahun 657 H. Berlanjut hingga sekarang, perpecahan tersebut. Padahal umat Islam adalah bersaudara dan jika terjadi perpecahan sebagai saudara berkewajiban mendamaikan. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:

orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.

Maka momentum idul fitri ini, kita saling menjalin persaudaran dengan bersilatuhrahim. Melalui hubungan tali silatuhrahim, marilah kita menjadi saudara kembali demi terwujudkan kedamaian yang di ridhoi supaya kita mendapatkan rahmat dari-Nya.

Gejala Reifikasi Manusia dan Alam

Senin, 13 Agustus 2012


Tulisan ini pernah dimuat di Harian Umum Suara Merdeka

Ada sebuah kisah yang perlu kita teladani, sebut saja namanya Fatimah. Kini ia tinggal di kota bersama suaminya. Kehidupan rumah tangganya sangat harmonis, wanita cekatan dan suka silatuhrahmi dengan keluargannya di desa apa lagi saat lebaran tiba. Tapi kehidupan Fatimah berubah drastis, saat dia mengenal teknologi. Dulu ia tidak pernah menggunakan Hp, internet maupun gadget. Lain dulu lain sekarang, ia bebas menikmati perkembagan teknologi tersebut, karena mudah mendapatkannya di kota.
Gadis desa yang sangat polos sekarang ini menikmati perkembagan peradaban umat manusia. Kesibukannya sekarang tidak lagi hanya mengurusi rumah tangga namun juga berselancar di dunia maya, update status facebook dan menjawab sms atau  telpon. Begitu juga dengan anak-anaknya yang asyik dengan permainan play station. Kesibukannya membuat ia stres, depresi dan hubungan dengan familly di desa tidak lagi seperti dulu. Ia cukup menelepon atau sekedar sms saja.
Sungguh di era globalisasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia dalam kemudahan. Ilmu pengetahuan dan teknologi dipersiapkan sesuai dengan fitrah manusia artinya memenuhi dorongan asasi manusia yaitu keingintahuan (curiosity) terhadap segala sesuatu (realitas). Namun hal tersebut menjadi berbalik, kini manusia telah dikuasai kemajuan teknologi. Mereka sekarang menjadi budak teknologi dengan berbagai gadget tanpa daya.
Banyak karyawan di PHK sebab malamnya ia sibuk dengan meng-update status facebook dan twitter, sehingga saat kerja sering datang terlambat. Begitu juga dengan peredaran video mesum yang mudah diunduh di internet, sehingga menyebabkan banyak kasus seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, perdagangan anak dan lain sebagainya.
Perilaku kehidupan pada era informasi ini juga telah merambah kehidupan personal umat manusia. Sehingga memunculkan gejala-gejala seperti maraknya kasus-kasus perceraian, pengunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia dan bunuh diri. Dalam pandangan Frijof Capra hal tersebut sebagai bentuk “penyakit-penyakit peradaban”. Ternyata perkembangan sains dan teknologi yang spektakuler pada abad ke-20 tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan umat manusia.
Problem mendasar yang dialami manusia di zaman modern saat sini biasa disebut dengan alienasi dan reifikasi. Menurut Erich Fromm alienasi adalah sebuah penyakit mental yang ditandai oleh perasaan keterasingan dan segala sesuatu; sesama manusia, alam, Tuhan, dan jati dirinya sendiri.
Hal ini terkait dengan gejala reifikasi (pembendaan objektivikasi) bahwa manusia modern menghayati dirinya sendiri sebagai benda, obyek; yang pada gilirannya, duniapun hanya dianggap sebagai kumpulan fakta-fakta kosong (tanpa makna dan nilai). Dunia yang direifikasi telah menjadi dunia yang tidak manusiawi. Praktik-praktik konsumerisme, hedonisme sebagai sebab alienasi manusia atas bahaya laten globalisasi atas mudahnya mendapat informasi dan teknologi.
Persoalan krisis global semakin kompleks dan multidimensional tidak saja dialami manusia namun berimbas pada salah satu masalah serius yakni kerusakan ekologi atau lingkungan hidup. Menjadi isu global yang melibatkan cara pandang manusia modern terhadap alam. Alam telah dipandang sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin. Memang dominasi terhadap alamlah yang menyebabkan masalah bencana, lahan semakin sempit, kurangnya ruang bernafas, kemacetan kehidupan kota, pengurasan jenis sumber alam, hancurnya keindahan alam.

Paradigma yang membebaskan
Perilaku umat manusia dengan perkembangan gadget dan eksploitasi terhadap alam ini disebabkan oleh konsepsi materialistik tentang dirinya dan alam yang didukung dengan nafsu dan ketamakan yang semakin banyak menuntut kebutuhan hidup. Semua ini dalam pandangan filosofis akibat dari cara pandang yang dualistik-mekanistik dan materialistik. Cara pandang ini menyebabkan terjadinya dikotomik atau diversitas (pembedaan) seperti; subyek-obyek, manusia-alam, manusia-Tuhan, suci-sekuler, timur-barat.
Cara pandang dikotomik ini menyebabkan tidak harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam yang telah dihancurkan. Semua ini terkait dengan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh hancurnya harmoni antara Tuhan dan manusia. Positivisme ilmu menempatkan paradigma Cartesian-Newtonian yang memperlakukan manusia dan sistem sosial seperti mesin besar yang diatur menurut hukum-hukum objektif, mekanis, dan materialistik.
Dari paradigma tersebut menuntut pembahasan tentang konsepsi manusia seutuhnya dan dampak krisis ekologis ke dalam pandangan dunia baru. Sebagai sebuah skenario proyek penyelamatan umat manusia dan ekosistem dengan mengajukan paradigma yang mampu memanusiakan manusia dengan teknologi dan alam.
Cara pandang yang menempatkan teknologi sebagai obyek bukan subyek, sebab manusia telah menjadi korban (obyek) dari teknologi dan pembelajaran kesadaran lingkungan yang sekarang ini telah menjadi isu internasional yakni masalah global warming. Hal ini merupakan sebuah keyakinan bahwa manusialah yang menjadi standar segala sesuatu. Kebenaran atau kesalahan ditentukan manusia, manusia adalah pusat atau pengendali alam yang dapat menentukan nasibnya sendiri.
Dengan demikian dalam cara pandang ini bahwa manusia bebas untuk menikmati berbagai macam perkembangan teknologi dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang bergantung kepada alam. Akan tetapi manusia terikat dengan adanya konskwensi logis berupa baik-buruknya yakni terhadap dirinya, manusia laninnya, alam semesta dan Tuhan.
Maka kita harus bijak dalam menggunakan teknologi dan memanfaatkan alam ini. Sebab manusia merupakan subyek yang harus menjaga dan memakmurkan bumi, bukannya merusak atapun menghancurkannya. Sejatinya manusia adalah khalifah atau pemimpin dibumi yang mengemban amanah untuk menjaga kesetabilan lingkungan dan tentunya hubungan dengan Tuhan. Ketika dirinya rusak maka rusak pula hunbugannya dengan sang khalik, berbuatlah bijak terhadap apa yang telah dikaruniakan kepada kita. Menggunkan dan memanfaatkan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan keperluan.

Puasa, Kekuasaan dan Ketakwaan

Membincang puasa dan kekuasaan diri upaya membangun manusia yang beriman dan bertakwa tidak terlepas dari ayat al Qur’an surat al Baqarah ayat 185, menyatakan bahwa setiap umat Islam wajib melaksanakan puasa ramadhan dan tujuannya supaya menjadi insan yang bertakwa.

Puasa bukanlah ekspresi tahunan yang datang untuk diperingati dengan kemewahan. Namun sangat ironi sekali jika puasa dijadikan satu eksploitasi baru sebab masyarakat kita yang cenderung konsumtif dan meyakini akan nilai-nilai tradisi.
Sehingga dalam menyambut bulan puasa mereka berkeinginan lebih untuk menyambutnya. Semisal tradisi dukderan dan warak ngendok, sebagai hasil warisan budaya untuk menyambut bulan suci ramadhan.

Ada yang berangapan bahwa jika puasa tiba tingkat komsumsi masyarakat meningkat hingga menyebabkan harga kebutuhan pokok meningkat. Ini disebabkan culture yang sudah berkembang dan meyakini bentuk ekspresi tahunan. Padahal tujuan puasa untuk menjadikan manusia bertakwa.

Namun tidak menjadi masalah jika manusia sadar betul dalam memaknai puasa. Ada nilai lebih dari manfaat puasa selain bagaimana menahan rasa lapar dan haus. Di perintahkan pula untuk menahan nafsu. Nilai etika dan pendidikan ruhaniyah sangat tertanam dalam ajaran ibadah puasa.

Manusia dan kekuasaan diri
Manusia hidup tidak terlepas pada etika, norma dan hukum yang berlaku, begitu juga seseorang yang memeluk agama ada garis pembatas untuk melakukan sesuatu hal. Terlepas dari teori etika Karl Marx berpendapat bahwa moral manusia ditentukan oleh kondisi ekonomi berupa materi yaitu moral manusia ditentukan oleh lingkungan yang mempengaruhinya. Sifat manusia sama sekali tidak memiliki daya dan upaya terhadap kondisi lingkungan. Kondisi sekarang menunjukan bahwa kapitalisme telah menjajah manusia yang cenderung bekerja pada wilayah material.

Faham Karl Marx sampai sekarang tetap masih hidup walaupun komunisme telah hancur teriring hancurnya Negara Uni Soviet, namun faham tersebut tetap bertahan sampai sekarang yaitu mereka yang disebut dengan “wetensdhappelijke socialism” atau sosialisme ilmu.

Di Indonesia dulu aliran Marx atau biasa disebut dengan Marxisme sangat berkembang pesat, terutama kelompok politik sebut saja Partai Sosialis Indonesia (PSI), Marxisme-Trozkist dalam Partai Murba dan Marxisme-Leninist dalam Partai Komunis Indonesia (PKI).

Faham yang kedua datang dari Sigmund Freud seorang ahli “psikoanalisis”, yang menyatakan bahwa manusia sama sekali tidak berdaya terhadap kekuatan yang ada dalam dirinya yaitu berupa kekuatan libido atau kekuatan seksualitas. Semua aktifitas dan pikiran serta perilaku sesorang bersumber pada dorongan kekuatan libido atau seksual, dalam artian bahwa manusia adalah budak sek.

Pertanyaan yang kemudia muncul adalah apa hubungan teori Marx dan Freud terhadap puasa, kekuasaan dan ketakwaan?. Karl Marx dan Sigmund Freud merupakan seorang keturunan Jerman dan Yahudi. Pada teori ini dapat di tarik kesimpulan dua pemikiran yaitu manusia sebagai budak material berupa masyarakat yang cenderung kapital dan budak kekuatan seksualitas berupa perbutan kekuasaan.

Di sebutkan dalam al Qur’an surat Adz Dzariat ayat 56 menyatakan bahwa “tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaKu”. Manusia adalah seorang budak “abdun” atau seseorang yang menyembah. Namun realitas menunjukan lain sekarang manusia telah menjadi budak ajaran Marx dan Freud dan menginkari nikmat mereka saling berebut materi di pemerintahan. Manusia telah menjadi budak materi dan libido, kekuasaan diperebutkan banyak orang berpolitik menjadi bendera untuk meraih derajat tertinggi dimata manusia lainnya.

Begitu juga kekuatan libido menjadi dorongan kuat dalam menguasai nafsu seseorang. Nafsu untuk saling menindas, rakyat miskin berupaya keras mencari sedikit rizki namun di todong dengan mainan pistol Satpol PP. Sedangkan para petinggi republik ini saling berebut kursi kekuasaan bahkan paling parahnya para wakil rakyat ini bermesraan dengan pasangan selingkuhannya. Sungguh malang negeri ini jika masih dipimpin oleh mental Marx dan Freud serta jiwa korup yang menjadi pikiran.

Mentalitas pemimpin negeri ini sangat kacau jika masih mengikuti ajaran kapitalis berupa penindasan atas nama kesejahteraan dan kemakmuran. Kita ketahui bahwa kekuatan modal sangat berpengaruh dalam dunia ketiga atau era pasar bebas sebut saja Transnational Corporation (TNC) dan Multinational Corporation (MNC) dan bangsa Indonesia telah terjajah dengan faham kapitalisme global. Mengapa mentalitas pemimpin negeri tidak cenderung keluar dari sarang material dan seksualitas, sedangkan Negara tercinta ini masih saja menjadi budak oleh kekuatan asing.

Semua jawabannya yaitu pada kekuatan diri berupa “nafsu”. Rasulullah telah mengajarkan kepada kita bahwa jihad paling besar yaitu “jihad an nafs”, jihad melawan hawa nafsu atau melawan diri sendiri. Kekuatan nafsu menjadi pendorng mentalitas seseorang sebab jika al hawa atau nafsu al amarah menyerang diri seorang maka sifat jasmani dan ruhani manusia akan lemah dan memiliki mentalitas korup.

Kekuatan pengendali manusia berupa nafsu inilah yang menjadi senjata ampuh untuk mengikat keinginannya tehadap sifat meteri dan seksualitas. Sebab dalam pandangan Marx dan Freud pengendali manusia berkerja pada wilayah lingkungan yang cenderung kapital dan seksualitas atau libido terhadap kekuasaan ataupun selingkuhannya.

Maka saatnya seorang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah kembali menata nafsunya. Sesegera mungkin kembali kepada nafsu mutmainah (jiwa yang tenang).

Puasa dan ketakwaan
Puasa adalah ibadah maghdhoh rukun Islam ke empat. Di dalam ajaran puasa sangat berbeda dengan rukun Isalm lainnya seperti syahadat, shalat, zakat dan haji. Puasa lebih berorintasi teosentris berupa semua hal yang dilakukan dan dikerjakan semua hanya Allah yang menilainya. Derajat takwa tidak mudah untuk diraih sebab tingkatan inilah yang menjadi dasar seseorang mengetahui diri dan perannya sebagai hamba atau budak.

Puasa hanya di syari’atkan kepada dirinya yang mengaku beriman sebab puasa merupakan pengendalian dirinya dengan Tuhannya. Karena puasa tidak dapat dilakukan atas dasar penampilan, kekuasaan materi dan kekuatan libido. Puasa menurut bahasa adalah “menahan dari segala sesuatu”. Sedangkan menurut syari’at yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri dan semua hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari

Dari ibadah puasa ini seyogyanya manusia megetahui jati dirnya, maka tidak cenderung terikat penuh dengan teori faham Marx dan Freud: Pertama, kekuatan manusia memang terikat dengan materi namun juga terikat dengan immaterial berupa kekuatan qalb (hati), puasa mengajarkan menahan nafsu materi sebab disisi Allah hanya hati bertakwa yang bias dekat dengan-Nya. Tidak semua hal dapat dipecahkan dengan kekuatan modal atau uang. Kedua, kekuatan manusia tidak hanya libido namun juga an natiq (pikiran). 

Nasfu seksualitas pada kekuasaan dan sek, tidak semua hal terpenuhi dengan menguasai tapi lihatlah siapa yang hidup di sekeliling kita, karena puasa mengilhami untuk menjaga nafsu libido dan memulyakan manusia lainnya, Ketiga, nafsu mutmainah bahwa manusia memiliki kekuatan selain kekuatan materi, material, libido dan pikiran. Manusia juga diberi kekuatan berupa kekuatan jiwa yang selalu dalam ketakwaan berupa nafsu mutmainah. Puasa merupakan intisari upaya membentuk jiwa seseorang dan pengemblengan mental tangguh.

Sangat jelas sekali bahwa syari’at Islam mengajarkan untuk menahan diri dari segala hal yang dilarang dan bertujuan untuk meraih tingkatan takwa. Orang yang mencapai derajat pada tingkatan takwa yaitu seseorang yang terpelihara dari segala yang menjerumuskan atau segala hal yang dilarang oleh agama. Ibarat seseorang yang dalam perjalanan ia harus membawa bekal dan tahu tujuan yang diharapkan, jadi agama menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan didunia sebagai hamba guna meraih tujuan hidup yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Takwa berasal dari kalimat fi’il atau kata kerja “tattaquwn, yattaquwn”, yang berarti melaksanakan seluruh hal yang diperintahkan dan menjahui segala hal yang dilarang.

Saatnyalah manusia kembali mengkoreksi dirnya, siapa yang mengendalikan dirinya kekuatan material kah atau kekuatan libido kah. Semua bentuk penindasan datang karena kekuatan material dan seksualitas. Maka mulai saat ini kembalilah kepada jiwa yang tenang kemabali pada tali Allah berupa agama Islam yang akan mengantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena Allah menyukai dan mencintai orang yang taubat dan mensucikan diri, bukan materi dan libido.

Ramadhan dan Kesalehan Nasional


Jarum jam terus berputar seiring perjalanan waktu, kini ramadhan datang kembali serasa satu tahun terasa sangat cepat. Ramadhan merupakan bulan yang didalamnya diturunkannya permulaan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Bulan yang memiliki keistimewaan dari bulan-bulan lainnya karena disini umat Islam diwajibkan untuk melakukan ibadah puasa wajib bagi hambanya yang mampu melaksanakannya.

Dalam surat al-Baqarah ayat 185, al-Qur’an telah menunjukan keistimewaan dari bulan ramadhan dan mengisyaratkan penjelasan yang amat bermakna, pertama syahru ramadhan yang berarti bulan ramadhan yang memiliki keberkahan, bulan ini mengandung hubungan hamba dengan Tuhannya. Kedua, alladzi unzila fiilhil Qur’an yaitu bulan awal mula diturunkannya wahyu al-Qur’an dari malaikat Jibril kepada nabi Muhammad. Ketiga, hudan linnaas wa bayyinatin minal huda wal furqan yang mengandung makna bahwa al-Qur’an sebagai petunjuk jalan yang lurus dan pembeda antara yang hak dan bathil. 

Keempat, faman syahida minkumus syahra fal yashumhu, mengisyaratkan bagaimana sikap seorang mukmin yang melaksanakan kewajiban tersebut yakni puasa ramadhan yang dilaksanakan selama sebulan penuh. Kelima, faman kana maridhan au’ala safarin fa’idddatun min ayyamin ukhara, yang bermakna bahwa bulan ini tidaklah membebani atau memiliki fleksibilitas bagi umat mukmin yang tidak mampu mengerjakannya. Islam mengajarkan sikap untuk tidak memaksakan dan keringannan bagi hambanya yang tidak sanggup mengerjakan ibadah ramadhan.

Keenam, yuridhu bikumul yusra wala yuridu bikumul’usr bahwa Allah sangat menghendaki untuk umatnya kemudahan, tentunya bagi mereka yang tidak mampu atau memiliki udzur syar’i. Ketujuh, walitukmilul iddata, walitukabbirullaha ‘alamaa hadakun, wala’allakum tasykuruun, dengan kemudahan tersebut umat Islam untuk senantiasa bersyukur atas segala kemudahan dalam beribadah. 

Ramadhan mengisyaratakan bahwa bulan yang memiliki logika matematis amat dalam dan memiliki maksud tujuan tertentu. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dimasyarakat. Sepeti halnya masalah-masalah sosial kemasyarakatan seperti budaya, korupsi, kasus bank century, lumpur lapindo, masalah video mesum dan lain sebagainya. Maka Allah mengisyaratkan umat manusia untuk ingat akan kelebihan bulan ini dibanding dengan bulan lainnya.

Bulan yang diwajibakan umat Islam untuk melaksanakan puasa ramadhan, yang mengisyaratkan penjelasan yang amat dalam. Karena pada bulan ini ada suatu ekspresi tahunan seperti dugderan, mudik dan masjid-masjid yang dipenuhi dengan jama’ah yang melaksanakan tadarus dan shalat tarawih. Ramadhan bukanlah demi sebuah ekspresi tak terkendali, bukannya menjadikan dirinya kembali suci (fitrah) malahan hanya melaksanakannya sebagai kegiatan tahunan.

Puasa mengajarkan kita untuk menahan nafsu baik nafsu syahwat maupun nafsu keduniaan. Namun setiap tahun kita menjalankan ibadah tersebut justru memiliki ketimpangan moral yang tidak berbanding lurus dengan tujuan dan hakekat puasa untuk menjadi hamba yang bertakwa. Semenjak kasus video Aril, sebelumnya Indonesia menjadi negara nomer tiga yang mengkonsumsi video mesum sekarang justru naik peringkat ke level nomer dua. Kasus korupsi yang telah membudaya dan bahkan saling menyalahkan anturan perundang-undangan. Makelar kasus, lumpur lapindo, bank century dan lain sebagainya yang kini juga belum teratasi.

Apa yang salah dinegeri ini, kalua ada pertanyaan; apakah manusiannya atau ajaran agamanya yang salah. Sungguh sangat ironis sekali, bulan ramadhan merupakan bulan kesadaran karena kita disucikan untuk menyadari diri kita, tentang sejatinya kedirian kita malahan menjadi serigala yang saling memakan satu sama lain.

Menuju kebangkitan sosial
Ibadah dibulan ramadhan mengandung pandangan untuk membangun individu yang memiliki kualitas dan peran kekhalifahan. Karena agama Islam mengajarkan lima dimensi bagi umatnya ritual, mistikal, idiologi, intelektual dan sosial. Apakah penyebab permasalahan-permasalahn sosial kemasyaraktan yang hingga kini belum tertuntaskan.

Dalam dini manusasia terdapat dua dimensi yakni material dan imaterial atau jammani dan ruhani. Pada dimensi material, Karl Marx berpendapat bahwa pengendali moral manusia di ditentukan oleh kondisi ekonomi berupa materi yaitu moral manusia ditentukan oleh lingkungan yang mempengaruhinya Sifat manusia sama sekali tidak memiliki daya dan upaya terhadap kondisi lingkungan. 

Sedangkan pada dimensi imaterialnya sebagaimana pandangan Sigmund Freud seorang ahli “psiko analisa”, yang menyatakan bahwa manusia sama sekali tidak berdaya terhadap kekuatan yang ada dalam dirinya yaitu berupa kekuatan libido atau kekuatan seksualitas. Semua aktifitas dan pikiran serta perilaku sesorang bersumber pada dorongan kekuatan libido atau seksual, dalam artian bahwa manusia adalah budak sek.

Kondisi inilah yang menyebabkan negara ini rusak dan hancur dengan penjajahan gaya baru berupa perusakan kesejatian diri manusia. Maka diperlukan obat penenang dan racun yang mampu merusak sel-sel keburukan perilaku tersebut. Ramadhan inilah jawabnya, ada sebuah tuntutan untuk mengoreksi kedirian kita.
Diri ini harus mengerti kandungan yang tersirat dan tersurat dalam bulan ramadhan berupa nilai-nilai yakni nilai pendidikan ruhaniyah, aqliyah dan amaliyah. Dalam ajaran puasa dituntut untuk mensucikan diri dari pikiran kotor dan nafsu al-amarah. Begitu pula ajaran amaliyah lainya berupa shalat tarawih, tadarusan bersama untuk menjalin ukhuwah Islamiyah, tali sihlatuhrami dibangun dan dianjurakan untuk memberikan sedekah di bulan suci. Begitu pula nilai aqliyah berupa ketenangan pikiran untuk selalu berfikir yang baik dan bermakna bagi dirinya dan orang lain, tidak mengedepankan ego material maupun imaterial.

Maka dengan nilai-nilai pendidikan tersebut sejatinya diri kita terdapat kesalihan nasional yang menggariskan beberapa prinsip antara lain; pengendalian diri, rasa kesamaan, kasih sayang, tolong menolong, ukhuwah, keadilan amar ma’ruf nahi munkar, demokrasi dan lain sebagainya. Prinsip tersebut merupakan kesejatian kesaliahan nasional yang tertuang dalam pandangan kebinekaan ataupun rasa persatuan dan kesatuan demi Indonesia yang lebih baik.

Karena dengan pandangan kesalihan nasional ada pandangan rasa persaudaraan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa hidup sendirian tanpa adanya bantuan dari orang lain. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan (QS. Al-Maidah ayat 2), bukannya pertikaian, permusuhan dan perusakan. Dengan ini manusia memiliki tugas untuk menjaga keharmonisan hubungannya dengan sesama manusia dan lingkungan semesta sebagai mahluk sosial dan dengan Tuhannya sebagai mahluk individu.

Dengan demikian, bulan ramadhan memberikan kesempatan kepada diri kita untuk mengkoreksi tahun-tahun yang lalu tentang diri kita dan kondisi sistem keindonesiaan. Melalui bulan ramadhan atas keistimewaan ibadah puasa diharapkan dapat menuntun kita ke arah kehidupan masyarakat yang lebih beradab dan mampu memecahkan permasalahan-permasalah yang terjadi di Indonesia dengan kebajikan.
Selamat menunaikan ibadah ibadah puasa.

Momentum Kebangkitan Nasional Memperingati Isra Mi’raj

Salah satu ujian keimanan umat Islam yakni peristiwa agung yang disebut dengan isra mi’raj, merupakan peristiwa yang dijalani Rasulullah pada malam 27 rajab tahun ke 12 kenabian. Isra yang memiliki makna perjalanan dimalam hari, sedangkan mi’raj berarti kendaraan sebagai alat transportasi (buraq). Transportasi buraq tersebut memiliki kedasyatan luar biasa yang kecepatanya lebih cepat dengan rambatan cahaya dan kilatannya sebelum manusia mengedipkan mata.
Jibril sebagai pembimbing Rasul mengajak Muhammad keluar dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa yang terletak di Yerussalem, merupakan tempat kiblatnya para nabi. Di setiap perjalanannya Muhammad bertemau para nabi, seperti berkunjung ke Syajar Musa tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari kejaran Fir’aun, lalu menuju Tunesia tempat Nabi Musa menerima wahyu terus menuju baitul’ilmi tempat kelahiran nabi Isa. Hingga perjalanan tersebut menuju tangga ke langit dan sampai ke sidratul muntaha.

Pesan yang paling penting dari peristiwa agung tersebut bagi umat manusia adalah adanya pesan keimanan dan perintah shalat. Dua hal tersebut untuk membimbing manusia menuju jalan kebenaran, sebab sekarang ini bencana alam dan bencana kemanusia telah melanda manusia modern yang berfikir positivistik.
Sehingga nilai-nilai yang tersimpan diluar batas akal manusia tersembunyi, tanpa membuka tabir yang ada didalammnya. Jika ia mampu membukannya kejadian seperti bencana alam berupa gunung meletus, kebanjiran, lumpur lapindo maupun tanah longsor. Tentu manusia akan mengerti, bahwa disetiap kejadian ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Bukan semata-mata akal sebagai daya pikir manusia, namun akal ruhani manusia yang mampu menyelami samudera hikmah.
Begitu juga akan kejadian bencana kemanusiaan berupa kasus korupsi, makelar pajak, pembunuhan maupun pelangaran terhadap hak asasi manusia. Dapat ditangkal melalui perintah isra mi’raj berupa perintah shalat. Sebab didalam ibadah shalat terangkum jelas akan adanya perbuatan untuk mencegah perbuatan amar maruf nahi’ munkar.
Namun manusia telah lupa dengan perintah keimanan dan shalat tersebut. Keimanan manusia diuji dengan berbagai problem atau masalah-masalah yang melingkupinya dari masalah ekonomi hingga sampai pada wilayah politik. Manusia diuji dengan masalah harta, hingga korupsi merajalela menjadi budaya bangsa. Bahkan keimanan manusia diuji dengan berbagai aliran agama, mengangap islamnya paling sempurna.
Shalat hanya dijadikan perintah kewajiban saja tanpa mendalami esensinya. Masjid dan mushala berdiri megah, sebab bantuan sosial pemerintah menunjangnya namun penghuninya hanya lewat sementara tanpa memakmurkannya. Training shalat menjadi mata kuliah supaya manusia dapat menyelami kekhusukan beribadah, tapi ketika ia berhubungan hanya meminta lupa akan proses tujuannya antar manusia dan alam.
Maka ia akan beranggapan bahwa peristiwa isra mi’raj itu hanya angin lalu saja, tanpa ada realitas untuk kembali mengamalkan perintah peristiwa tersebut. Bahkan ada pula yang menganggap peristiwa itu tidak dapat dibuktikan dengan sains. Sebab paham rasionalitas dan empirisme menjadi tolak ukurannya. 
Sungguh manusia dalam gelap peradaban dengan berbagai macam kemudahan yang dicapainya dengan mengelembungnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika terbukti dengan standar positivistik, apakah perintah isra mi’raj benar direnungkan. Nyatanya sama saja, dibuktikan dengan teori relativitas Einsteinpun, tak ada guna jika penyakit peradaban tetap saja menjangkiti.

Rindu Metafisiska
Isra yang memiliki makna perjalanan dimalam hari, menunjukan garis pentingnya berjalan kembali menuju kebangkitan. Pada setiap perjalanan tentu memiliki awal dan tujuan. Perjalanan yang diawali waktu malam hari, malam memiliki sebuah makna kegelapan. Bangsa ini telah dirundung duka kegelapan, maka semestinya menyadari akan hal itu, untuk kembali melakukan isra.
Dengan tujuannya yang termaktup dalam uraian lima dasar Negara yakni pancasila. Ada sebuah kerinduan bagi bangsa ini untuk mengamalkan kembali pancasila. Isra mi’raj merupakan momentum besar dalam mengamalkan pancasila sebagai dasar Negara, tentu dengan mengamalkan perintah keimanan dan shalat.
Sila pertama menitikbertakan pada keimanan, menemukan kembali keyakinan yang hilang. Melalui keyakinan dalam beragama, umat Islam pada khususnya akan menjadikan masjid atau mushala sebagai tempat berkumpul sebagai tolak ukur jamaah yang kuat. Hingga jalinan persatuan dari berbagai macam suku yang berorientasi transendental. Menjadikan shalat sebagai inti sari untuk selalu berbuat kebaikan dan menghindari dari perbuatan yang dilarang.
Namun lembaran tersebut manusia harus membukanya terlebih dahulu dengan menggunakan transcendental intelligence atau kecerdasan ruhaniahnya. Penggunaan kecerdasan ruhani untuk mencapai keimanan yang kuat, maka qalbu (hati) dijadikan pusat dari segala sesuatu. Dengan demikian manusia dapat memahami melalaui asumsi dan proses perenungan yang sangat personal karena didalam qalbu terdapat berbagai potensi yang multidimensional.
Qalbu merupakan tempat dialam jiwa manusia sebagai titik sentral yang menggerakan perbuatan manusia yang memilih untuk berbuat kepada kebaikan atau keburukan. Bahkan rasulullah sendiri telah mengajarkan kepada umatnya, ada sebuah segumpal daging yang diberi makan kebaikan maka ia akan berbuat kebaikan. Sedangkan jika daging tersebut diberi makan keburukan, niscaya keburukan yang dialami. Seandainya para koruptor menyadari akan hal itu, sungguh bangsa ini akan maju. Karena apa yang kita makan, akan menjadi sebuah daging yang mengerakan perilaku dan sikap.
Pada dasarnya kecerdasan ruhani merupakan bukti cinta kepada Tuhan, esensi dari semua kecerdasan. Melalui pembukaan lembaran kepercayaan metafisis isra mi’raj ini, diharapkan menjadi pengerak momentum kebangkitan nasional. Sebab kita menginginkan sebuah tujuan untuk mencapai kesempurnaan, dari hakikat diri kita yakni pembebasan diri dari segala macam penderitaan. Untuk mencapai harus dilalui dengan kesederhanaan hidup yang diwujudkan dengan bentuk praktek dari keimanan dan shalat.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mahasciena
Copyright © 2011. Mahasciena - Lukni Maulana - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Lukni Maulana
Present by Rumah Pendidikan Sciena Madani